ReArchivu
DUKUNG KAMI
  • Home
  • News
  • Game
    • Platform
      • PC
      • PlayStation
      • Nintendo
      • Xbox
      • Mobile
    • JRPG
    • Game Indie
    • Game Retro
    • Game Lokal
    • Gamebiz
  • Review
    • Review Game
  • Pilihan Editor
    • Eksklusif
    • Interview
    • Essay
    • ReArchivu List
    • Panduan
  • Pop Culture
    • Animanga
    • Music
    • Film
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Game
    • Platform
      • PC
      • PlayStation
      • Nintendo
      • Xbox
      • Mobile
    • JRPG
    • Game Indie
    • Game Retro
    • Game Lokal
    • Gamebiz
  • Review
    • Review Game
  • Pilihan Editor
    • Eksklusif
    • Interview
    • Essay
    • ReArchivu List
    • Panduan
  • Pop Culture
    • Animanga
    • Music
    • Film
  • Video
No Result
View All Result
ReArchivu
No Result
View All Result

Review Code Vein II – Kembalinya Dark Souls Versi Anime

SulthonybySulthony
March 2, 2026
in Review Game, Game, JRPG, PC, Pilihan Editor, PlayStation, Review, Xbox

Tak terasa, sudah tujuh tahun berlalu sejak Code Vein pertama kali dirilis. Pada debutnya, game yang kerap dijuluki sebagai “Dark Souls versi anime” ini berhasil mencuri perhatian dan mendapatkan respons positif dari para penggemar berkat perpaduan gaya visual anime, cerita emosional, dan gameplay soulslike yang menantang. Kini, Bandai Namco akhirnya menghadirkan Code Vein II, sekuel yang menjanjikan berbagai peningkatan dan fitur baru yang lebih ambisius.

Kali ini, ReArchivu mendapat kesempatan spesial dari Bandai Namco untuk menjajal langsung Code Vein II lebih awal. Dengan ekspektasi tinggi dari para penggemar setianya, mampukah sekuel ini memenuhi atau bahkan melampaui harapan tersebut? Simak pembahan lengkapnya dalam review Code Vein II berikut ini.

Baca Juga

Dragon Ball Sparking Zero Telah Terdaftar Untuk Switch 2 Di Arab Saudi!

Dragon Ball Sparking Zero Telah Terdaftar Untuk Switch 2 Di Arab Saudi!

July 26, 2025
Rayakan Tahun Baru 2026, Crossbone Gundam X1 FC Resmi Meluncur di Mobile Suit Gundam Battle Operation 2

Rayakan Tahun Baru 2026, Crossbone Gundam X1 FC Resmi Meluncur di Mobile Suit Gundam Battle Operation 2

January 1, 2026
Tales of Berseria Remaster Gunakan Versi Internasional yang Disensor

Tales of Berseria Remaster Gunakan Versi Internasional yang Disensor

November 25, 2025
DIGIMON ALYSION Ungkap Trailer Terbaru Dengan Theme Song Yang Dinyanyikan Oleh Vtuber Nijisanji Enna Alouette

DIGIMON ALYSION Ungkap Trailer Terbaru Dengan Theme Song Yang Dinyanyikan Oleh Vtuber Nijisanji Enna Alouette

July 4, 2025

Table of Contents

  • Kustomisasi Character
  • Gameplay – Dunia Lebih Luas, Fitur Melimpah
    • Musuh Biasa: Ancaman yang Tidak Bisa Diremehkan
    • Mini Boss: Pemanasan Sebelum Boss Utama
    • Boss Utama: Kematian Adalah Element Utama
    • Senjata – Bervariasi Dan Layak Untuk Dicoba
    • Blood Code – Bukan Sekedar Variasi Class
    • Map – Sangat Luas Dan Dibebaskan
    • Partner – Sangat Fleksibel
  • Story – Terlalu Banyak Filler
  • Visual/Audio
    • Music
    • UI/UX
  • Port Quality (PC)
  • Final Verdict

Kustomisasi Character

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Hal utama yang kita lakukan saat memulai Code Vein II adalah membuat karakter sesuai keinginan kita. Pada game kedua ini, opsi kustomisasi semakin lengkap dan detail, mulai dari tinggi badan, ukuran badan, lengkungan dagu, mulut, hidung, sampai opsi warna rambut dan mata yang disediakan sangat melimpah.

Terdapat opsi aksesori yang kini dapat diposisikan lebih bebas, diputar, diperbesar atau diperkecil dengan kontrol yang lebih halus. Pemain bisa menempatkan ornamen unik di hampir setiap bagian tubuh, menciptakan kombinasi yang benar-benar orisinal.

Kustomisasi di Code Vein II tidak berhenti pada wajah dan aksesori. Pada bagian outfit, kita diberi banyak pilihan. Tambahan, kita bisa melepas beberapa bagian outfit awal yang sekiranya kalian tidak suka. Kita juga bisa menambahkan blood veil yang bisa dikenakan dengan bebas dan lebih variatif.

Inilah titik di mana Code Vein II terasa berbeda dibanding kebanyakan soulslike lain. Game ini tidak membatasi pemain pada estetika armor berat dan desain yang gelap saja. Ia justru mendorong kreativitas pemain mulai dari tampilan elegan, gothic, futuristik, hingga eksperimental. Semua pilihan ada di tangan pemainnya.

Gameplay – Dunia Lebih Luas, Fitur Melimpah

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Secara mekanik, Code Vein II tetap berakar pada formula soulslike: musuh-musuh yang sulit, manajemen stamina, membaca pola serangan musuh, serta kesabaran dalam menyerang. Namun, perbedaannya terasa jelas sejak jam-jam awal permainan. Kita langsung disuguhkan dengan dunia Code Vein II yang luas. Kita dibebaskan untuk menjelajahi dunianya baik di masa lalu maupun masa sekarang. Di sini saya akan mengelompokkan tiga musuh yang ada pada Code Vein II.

Musuh Biasa: Ancaman yang Tidak Bisa Diremehkan

Musuh-musuh kecil di Code Vein II dirancang untuk menguji kebiasaan pemain. Mereka mungkin tidak memiliki health bar besar atau arena khusus, tetapi pola serangan yang cepat dan mengagetkan, jumlah yang sering kali lebih dari satu, serta posisi mereka di area sempit membuat pertemuan sederhana berubah menjadi situasi berbahaya.

Yang menarik, variasi musuh terasa lebih fungsional dibandingkan sekadar visual berbeda. Ada musuh yang berfungsi sebagai pengganggu dari belakang, ada yang dapat membangkitkan musuh dari kematian, dan ada pula yang dirancang untuk memecah perhatian saat menghadapi kelompok besar. Hasilnya, eksplorasi yang sedang kita lakukan tidak pernah benar-benar terasa aman.

Musuh-musuh biasa ini akan kembali spawn apabila kalian rest di checkpoint.

Mini Boss: Pemanasan Sebelum Boss Utama

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Mini boss di Code Vein II berperan sebagai jembatan antara pertempuran biasa dan boss utama. Biasanya dia ditempatkan di akhir dungeon. Mereka muncul seperti boss utama, memiliki field-nya sendiri dan health bar yang banyak. Mini boss juga memiliki pola serangan yang cukup kompleks untuk menghentikan progres pemain yang belum memahami mekanik gameplay secara utuh.

Namun, mini boss di sini kadang terasa kurang. Ada yang health bar-nya “terlihat” banyak, namun sekali kena damage menggunakan skill langsung berkurang setengah. Mini boss di sini juga tidak semuanya berbeda di setiap tempat. Ada beberapa tempat/dungeon yang memiliki boss yang sama, membuat pengalaman tidak lagi menantang karena sudah pernah melawanya sebelumnya.

Jika berhasil mengalahkan mini boss, item dan health bar kalian akan pulih seperti mengalahkan boss utama. Mini boss tidak akan spawn lagi jika kalian melakukan rest.

Boss Utama: Kematian Adalah Element Utama

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Boss utama tetap menjadi puncak pengalaman Code Vein II. Setiap bos dirancang dengan identitas visual dan mekaniknya masing-masing, sering kali mencerminkan tema cerita atau tragedi karakter di baliknya, karena boss utama pada game ini pasti melibatkan main quest. Arena pertarungan, musik, dan pola serangan berpadu untuk menciptakan momen yang terasa intens sekaligus dramatis.

Dari sisi mekanik, boss fight kini lebih menuntut pembacaan pola dibanding sekadar reaksi cepat. Banyak boss memiliki fase kedua yang mengubah ritme pertarungan secara drastis, memaksa pemain meninggalkan strategi lama dan beradaptasi dengan cepat. Serangan dengan jangkauan luas, combo panjang, hingga serangan penghukum bagi pemain yang terlalu defensif membuat setiap kemenangan terasa benar-benar rewarding dan memuaskan.

Yang patut diapresiasi adalah bagaimana boss di Code Vein II jarang terasa tidak adil. Kekalahan biasanya berasal dari kesalahan pemain sendiri, entah karena terlalu rakus menyerang, salah membaca timing, atau gagal memanfaatkan kemampuan karakter secara maksimal.

Senjata – Bervariasi Dan Layak Untuk Dicoba

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Terdapat 7 tipe senjata utama pada Code Vein II yang bisa kalian pakai sesuai dengan playstyle kalian:

  • 1. One-Handed Sword: Tipe paling seimbang dan mudah dipakai, dengan serangan cepat dan combo fleksibel. Cocok untuk pemain baru atau build serba bisa, bisa beradaptasi dengan banyak situasi karena variasi formasi/skill cukup luas.
  • 2. Two-Handed Sword: Senjata berat yang memiliki phasing yang lambat, namun memberikan damage besar. Cocok untuk build strength atau pemain yang sabar.
  • 3. Twin Blades: Dua pedang kecil dengan phasing yang cepat dan agresif, mudah memberikan luka (wound) dan sinergi yang bagus dengan Drain Attack.
  • 4. Bayonet: Kombinasi melee + senjata api, jadi bisa menyerang jarak dekat dan jauh. Unik karena memungkinkan gaya bermain ranged dalam soulslike, tidak seperti Code Vein I yang menggunakan HP/Mana saat menembak, Code Vein II memerlukan ammo yang bisa kalian temukan atau crafting untuk menembak.
  • 5. Halberd: Senjata bertangkai panjang. Sangat kuat di mid-range. Banyak memberikan serangan area (AOE).
  • 6. Hammer: Damage per hit sangat besar, mudah mematahkan stance musuh, lambat tapi efektif melawan musuh besar atau boss.
  • 7. Rune Blade (Senjata Baru): Dua pedang yang melayang, gerakan akrobatik dan cocok dengan ability/incantation, potensinya tinggi jika dikombinasikan dengan build skill atau magic.

Dalam sekitar sepuluh jam pertama permainan, saya merasa penggunaan one-handed sword terasa cukup efektif, terutama berkat serangan lompat yang memiliki damage tinggi. Mengingat banyak boss berukuran besar, serangan ini memang berisiko karena membuka celah untuk diserang, tetapi mampu memberikan tekanan yang konsisten.

Ketika dipadukan dengan Formae/Skill yang memungkinkan kita melesat cepat ke arah musuh sebelum melancarkan dua tebasan beruntun, kemampuan tersebut bahkan menjadi andalan utama di fase awal permainan saya untuk menutup jarak sekaligus menjaga ritme serangan. Semakin lama playtime kalian akan semakin banyak Formae/Skill yang kalian dapat, dan masin-masing senjata memilikiFormae/Skillnya masing-masing, kalian bebas mengatur dan memposisikan skillnya sesuai playstyle kalian.

Variasi build tidak berhenti di situ. Game ini juga menghadirkan Bequeathed Formae, yaitu senjata khusus dengan efek unik seperti menghentikan waktu sampai senjata berbentuk panah, serta Defensive Formae yang membuka berbagai opsi bertahan. Pemain dapat memilih pendekatan defensif melalui tameng konvensional, teknik parry, hingga kemampuan evasion dengan karakteristik berbeda, memberikan kebebasan dalam menyesuaikan gaya bermain.

Blood Code – Bukan Sekedar Variasi Class

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Jika ada satu sistem yang benar-benar mendefinisikan identitas Code Vein, maka itu adalah Blood Code. Di Code Vein II, sistem ini kembali menjadi fondasi utama gameplay, bukan sekadar variasi kelas, melainkan filosofi bertarung yang bisa diubah kapan saja, sesuai kebutuhan dan gaya bermain.

Blood Code pada dasarnya berfungsi seperti class system. Namun, berbeda dengan sistem class tradisional yang mengunci atribut dan jalur progres, Blood Code bisa diganti kapan pun di checkpoint tanpa penalti permanen.

Setiap Blood Code memiliki distribusi stat unik, batasan equip weight, serta kumpulan Gift (skill aktif dan pasif) yang mencerminkan perannya, baik itu fighter agresif, tank defensif, ranged caster, atau hybrid support. Gift aktif mencakup serangan elemental, buff peningkat damage, skill mobilitas, hingga kemampuan crowd control. Sementara Gift pasif memberi bonus stat, efisiensi stamina, atau peningkatan efektivitas senjata tertentu.

Map – Sangat Luas Dan Dibebaskan

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Jika game pertama terasa linier dan terasa seperti rangkaian area yang berdiri sendiri, maka sekuelnya menghadirkan dunia yang terasa lebih menyatu dengan dunia post-apocalyptic dan lebih berani dalam memanfaatkan ruang sebagai alat bercerita. Map di Code Vein II dibuat lebih luas daripada game pertamanya dan membebaskan pemain untuk menjelajahi dunianya. Untuk mendukung eksplorasi, pemain dibekali kendaraan berupa motor yang dapat bertransformasi menjadi glider.

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime
Motor yang bisa jadi glider

Awalnya, seluruh map tertutup yang akan menyusahkan kita untuk membaca map, karena itu, kita diharuskan mencari Jammer untuk membuka map tersebut yang berada pada lingkaran merah. Selain luas, map pada game ini juga padat, setiap sudut biasanya menyimpan suatu item penting. Struktur seperti ini membuat eksplorasi terasa penuh risiko sekaligus memberi rasa pencapaian ketika pemain berhasil membuka jalur baru.

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime
Jammer untuk membuka map

Salah satu peningkatan paling terasa adalah keberagaman lingkungan. Dunia Revenant kini tidak hanya didominasi oleh lorong sempit dan reruntuhan monoton. Setiap area memiliki identitas visual dan atmosfer yang berbeda, mulai dari distrik kota yang runtuh, fasilitas penelitian yang dingin dan mekanis, hingga wilayah terbuka yang sunyi namun menyimpan ancaman di setiap sudut.

Partner – Sangat Fleksibel

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Selama permainan berlangsung, kita akan dibekali satu slot partner yang dapat menemani perjalanan menjelajahi dunia Code Vein II. Kehadiran partner tidak hanya berfungsi sebagai rekan bertarung melawan para Revenant, tetapi juga menawarkan fleksibilitas strategi yang menarik. Pemain dapat memilih untuk mengorbankan kehadiran partner di medan tempur dan menjadikannya sebagai sumber buff atau peningkatan status, di mana partner akan menyatu dengan tubuh karakter utama demi memperkuat kemampuan bertarung.

Mekanisme partner juga berperan penting dalam aspek survivabilitas. Ketika pemain mengalami kematian saat ditemani partner, karakter tidak langsung tumbang sepenuhnya. Partner akan menyatu dengan tubuh pemain untuk menghidupkan kembali pemain, memberikan kesempatan kedua di tengah pertempuran. Kemampuan ini dapat digunakan berulang kali, namun dengan konsekuensi yang semakin terasa: waktu cooldown akan bertambah lama dan jumlah HP yang dipulihkan semakin sedikit setiap kali digunakan. Dengan catatan, pemain tidak boleh kembali gugur saat kemampuan kebangkitan tersebut masih berada dalam masa cooldown.

Sistem ini mendorong kita untuk bermain lebih taktis, mempertimbangkan kapan harus agresif dan kapan harus berhati-hati, sekaligus memperkuat identitas Code Vein II sebagai Soulslike yang menekankan pengelolaan risiko dan pengambilan keputusan di setiap pertarungan.

Story – Terlalu Banyak Filler

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Code Vein II membawa narasi yang lebih terfokus pada time-travel, perjalanan antara masa kini dan masa lalu untuk mencegah kehancuran dunia Revenant. Game ini berlatar di dunia pasca-apokaliptik di mana manusia dan Revenant hidup berdampingan, namun terancam akibat kemunculan Luna Rapacis.

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime
Masa lalu
Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime
Masa kini

Kita akan bermain sebagai Revenant Hunter yang terbangun di tengah kekacauan tersebut, tanpa jawaban pasti tentang peran mereka dalam krisis yang terjadi. Sepanjang perjalanan, pemain akan menemukan fragmen ingatan dari berbagai karakter, masing-masing membawakan kisah masing-masing, mulai dari pengorbanan, harapan yang hilang, dan janji masa lalu yang tak pernah terpenuhi.

Menjadikan fase ceritanya menjadi lambat. Intinya, game ini memiliki satu tujuan utama: menyelamatkan para karakter di masa lalu demi mengubah masa depan. Dengan menolong mereka yang nasibnya berakhir tragis, pemain perlahan membangun harapan baru yang menjadi kunci untuk menghadapi ancaman terbesar yang membayangi dunia Revenant. Semua upaya tersebut menuju satu misi besar, yakni mencegah terjadinya kiamat yang dipicu oleh kemunculan Luna Rapacis.

Visual/Audio

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Walaupun gambar pada game ini hampir tidak memiliki peningkatan secara signifikan dari seri pertamanya, Visual Anime pada game ini memiliki sedikit peningkatan dari seri pertamanya, physical pada genangan air, kabut, dan pakaian terlihat sangat nyata pergerakannya. Videlity pada game ini sangat bagus, game ini mampu menampilkan view distance dengan sangat baik walau objek berada pada jarak yang jauh. Secara garis besar, Bandai berhasil membawakan gambaran dunia post-apokaliptik yang suram namun tetap indah.

Music

Didalam gamenya sendiri kita akan dibawakan soundtrack yang kembali dibawakan oleh Go Shiina, sayangnya soundtracknya hanya muncul saat di moment tertentu saja, seperti saat melawan musuh-musuh kecil, mini boss, dan boss utama mempunyai porsi sountracknya masing-masing. Tidak ada soundtrack di saat kita sedang memasukin dungeon atau eksplorasi.

Namun ini berhasil membuat saya menikmati saat sedang bertarung melawan musuh, muncul rasa penasaran pada diri saya sendiri “soundtrack apa yang akan diputar saat melawan boss ini nanti”, bahkan dari main menu utama saja kita sudah di sambut dengan main theme versi piano.

Sedikit informasi, Go Shiina sendiri merupakan composer yang belakangan ini menjadi perhatian dikarenakan soundtrack-soundtrack yang dia ciptakan melalui anime Demon Slayer.

UI/UX

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

UI/UX pada seri kedua ini memiliki banyak peningkatan, menurut saya pribadi sangat enak dilihat, dan mudah dimengerti dari segi informasi status. Sangat mudah memahami Stats apa yang meningkat jika kita melakukan upgrade senjata dan level, Stats apa yang akan tergantikan saat kita mengubah build karakter kita.

Namun kekurangannya ada pada Informasi Map yang diberikan kadang susah dimengerti, contoh pada map utama tidak ada indikator yang menunjukan bahwa quest yang tertera ada pada dungeon bawah tanah, yang mengakibatkan kita harus eksplore dan memutar sekiling dungeon untuk mencari jalan masuknya saja.

Port Quality (PC)

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

PC yang kami gunakan untuk menjalankan game ini adalah sebagai berikut:

  • Ryzen 7 5700X
  • RX 6600 8GB Vram
  • RAM 16GB 3200Mhz DDR4
  • SSD 1TB
  • Windows 11 Pro

Saat review ini dibuat, game masih pada versi 1.0.3, yang dimana penggunaan CPU pada game ini terbilang sangat tinggi dan tidak stabil untuk pengguna CPU High-End, sebagai gambaran saya menggunakan Ryzen 7 5700X, dengan setting grafis Medium – High DLSS On, CPU Usagenya itu bisa sampai 80-97% tergantung kondisi gambar yang sedang di tampilkan pada game, dan kadang masih ada shutter walau jarang, yang bisa mengganggu pengalaman bermain.

Final Verdict

Review Code Vein II - Kembalinya Dark Souls Versi Anime

Secara keseluruhan, Code Vein II adalah sebuah sekuel yang tidak sekadar mencoba mengulang formula lama, tetapi berusaha memperluas identitasnya sebagai anime soulslike yang berfokus pada hubungan karakter, eksplorasi dunia yang hancur, dan pertarungan penuh risiko. Ia tetap mempertahankan akar gameplay yang menuntut kesabaran, namun kini dibalut dengan pendekatan desain yang lebih matang dan fleksibel.

Dari sisi pertarungan, Code Vein II berhasil menghadirkan keseimbangan antara agresivitas dan strategi. Musuh biasa tetap berfungsi sebagai ujian konsistensi pemain, mini boss menjadi pengingat bahwa kesalahan kecil bisa berujung fatal, sementara boss utama tampil sebagai klimaks mekanik sekaligus emosional. Setiap kemenangan terasa pantas didapatkan, bukan sekadar hasil dari grinding.

Desain map menjadi salah satu peningkatan paling terasa. Area tidak lagi terasa seperti lorong panjang yang saling terhubung tanpa arah, melainkan ruang eksplorasi yang memiliki identitas visual dan fungsi gameplay yang jelas. Shortcut, jalur alternatif, serta penempatan musuh membuat eksplorasi terasa menegangkan tanpa kehilangan rasa penasaran untuk terus maju.

Namun, kekuatan terbesar Code Vein II tetap berada pada kustomisasi. Sistem Blood Code yang kembali hadir dalam bentuk lebih fleksibel memungkinkan pemain membangun gaya bermain yang benar-benar personal. Ditambah dengan kustomisasi karakter yang sangat detail, game ini memberi ruang besar bagi pemain untuk mengekspresikan identitas mereka, sesuatu yang jarang ditemui dalam genre soulslike yang biasanya lebih kaku.

Meski demikian, game ini tidak sepenuhnya tanpa kekurangan. Beberapa area masih mengandalkan pengulangan struktur desain, dan dalam situasi tertentu AI partner bisa terasa kurang responsif. Bagi pemain yang mengharapkan perubahan drastis dari formula pertama, Code Vein II mungkin terasa lebih sebagai evolusi daripada revolusi.

Pada akhirnya, Code Vein II adalah pengalaman yang memahami siapa targetnya. Ia bukan sekadar soulslike dengan gaya anime, melainkan RPG aksi yang menekankan perjalanan, hubungan antarkarakter, dan kepuasan menaklukkan dunia yang kejam secara perlahan.

Game Details

ItemCode Vein II
Played onPC via Steam
DeveloperBandai Namco Studios Inc.
PublisherBandai Namco Entertaiment Inc.
PlatformPC, PS5, Xbox Series
HargaRp 699.000
Skor 8

GREAT

Code Vein II sangat patut untuk dicoba oleh fans lama maupun baru yang menyukai genre action RPG atau anime soulslike. Game ini menghadirkan beragam musuh dan boss yang sangat rewarding jika dikalahkan. Untuk yang mencari pengalaman stabil dan lancar di PC, pertimbangkan untuk menunggu patch atau membelinya saat harga sedang diskon.

The Review

Code Vein II

PROS

  • Kustomisasi Karakter semakin lengkap
  • Combat yang menarik dengan build kustomisasi yang cukup dalam.
  • Musik efektif pada banyak momen.
  • Boss utama yang sangat sulit dikalahkan, menghasilan rasa puas saat mengalahkannya.

CONS

  • Performanya tidak stabil, terutama di PC + Cutscene Lock 30 FPS.
  • Story yang terlalu anime banget, membuat phasing ceritanya lambat
Tags: Bandai NamcoCODE VEIN IIRekomendasi Game
Share132Tweet83ShareShare
Previous Post

Selain Nobuo Uematsu, Ini Komposer JRPG Legendaris yang Membentuk Identitas Musik Game Jepang

Next Post

Mantan Presiden dan Desainer Semua Konsol SEGA, Hideki Sato Meninggal Dunia di Usia 77

Sulthony

Sulthony

Just a regular gamer, with main priority is a gameplay

Baca Selanjutnya

Sutradara Final Fantasy VII Revelation Pertimbangkan DLC Bergaya EPISODE INTERmission
News

Sutradara Final Fantasy VII Revelation Pertimbangkan DLC Bergaya EPISODE INTERmission

byFransiskus Sukardi Ruata
August 2, 2026
0

Naoki Hamaguchi mengungkapkan bahwa seri Final Fantasy VII Remake akan diakhiri dengan Final Fantasy VII Revelation.

Read moreDetails
hololive Dreams Gabungkan Elemen RPG dan Ritme untuk Kejar Audiens yang Lebih Luas

Kejar Audiens yang Lebih Luas, hololive Dreams Gabungkan Elemen RPG dan Ritme!

August 2, 2026
Ingin Berikan Kebebasan ke Studio yang Bermitra, Konami Akui Tidak Punya Kitab Suci Silent Hill

Ingin Berikan Kebebasan ke Studio yang Bermitra, Konami Akui Tidak Punya Kitab Suci Silent Hill

August 1, 2026
Semakin Kuat di PC, Penjualan Seri Final Fantasy VII Remake Diklaim Lebih Baik dari yang Diharapkan Square Enix!

Semakin Kuat di PC, Penjualan Seri Final Fantasy VII Remake Diklaim Lebih Baik dari yang Diharapkan Square Enix!

August 1, 2026
SWORD OF JUSTICE Rilis Season 1.3.1

SWORD OF JUSTICE Rilis Season 1.3.1

August 1, 2026

Discussion about this post

ReArchivu

© 2024-2026 ReArchivu - All Rights Reserved.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Review
  • Privacy Policy

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Game
    • Platform
      • PC
      • PlayStation
      • Nintendo
      • Xbox
      • Mobile
    • JRPG
    • Game Indie
    • Game Retro
    • Game Lokal
    • Gamebiz
  • Review
    • Review Game
  • Pilihan Editor
    • Eksklusif
    • Interview
    • Essay
    • ReArchivu List
    • Panduan
  • Pop Culture
    • Animanga
    • Music
    • Film
  • Video

© 2024-2026 ReArchivu - All Rights Reserved.