Mankibo sebenarnya tergolong sebagai studio game yang unik karena mereka memiliki cita-cita yang sangat tinggi untuk game perdananya, Montabi, dan bagaimana mereka memupuk budaya merangkul semua orang tanpa melihat kekurangan mereka.
ReArchivu mendapat kesempatan spesial dari Mankibo untuk mewawancarai berbagai topik terkait Montabi, termasuk visi Mankibo sebagai studio game Indonesia, dilema menggabungkan elemen creature collector dan roguelike deckbuilder, hingga rencana merancang Montabi sebagai IP yang bisa menjadi “Pokémon-nya Indonesia dan Asia Tenggara”.
“ArchivExpose” adalah segmen khusus di mana kami berbincang dengan tokoh industri game dan pop culture untuk meng-expose cerita mereka secara komprehensif agar menjadi sebuah archiv (pun intended).
Montabi sudah tersedia di XBOX Series X, XBOX Series S, Nintendo Switch 2, XBOX One, Nintendo Switch, dan PC (Steam, Epic Games Store, GOG).
*Wawancara ini sudah diedit untuk kejelasan pembaca.
Daftar Isi ArchivExpose Montabi
Mankibo Menjadi Wadah Berkarya Bagi Penyandang Disabilitas

Bolehkah kalian ceritakan bagaimana Mankibo bermula?
Bernardus Boy Dozan Poerniawan (Founder & CEO): Sebelum mendirikan Mankibo, saya baru saja keluar dari perusahaan yang didirikan sebelumnya bernama Joyseed [Gametribe]. Setelah keluar dari Joyseed, saya berencana bekerja sebagai profesional.
Visi kita sebenarnya cukup sederhana: menjadi tempat/wadah/studio untuk berkarya bagi orang-orang yang mungkin kurang mendapatkan kesempatan di luar sana, termasuk penyandang disabilitas yang kurang mendapatkan kesempatan secara adil.
Bernardus Boy Dozan Poerniawan, Founder & CEO di Mankibo
Sayangnya, belum ada kesempatan yang datang, dan akhirnya itu menginspirasi berdirinya Mankibo, menjadi tempat berkarya buat orang-orang yang mungkin kurang berkesempatan. Akhirnya saya mengajak Prayogo untuk memulai Mankibo.
Visi Mankibo sebagai studio game Indonesia itu seperti apa?
Boy: Visi kita sebenarnya cukup sederhana: menjadi tempat/wadah/studio untuk berkarya bagi orang-orang yang mungkin kurang mendapatkan kesempatan di luar sana, termasuk penyandang disabilitas yang kurang mendapatkan kesempatan secara adil.
Selain itu, kami sangat percaya bahwa semua orang berhak untuk having fun. Oleh karena itu, kami berusaha memiliki fitur accessibility sebaik-baiknya di produk yang kami buat.
Kemitraan dengan Akupara Games dan Rolling Glory

Mengapa kalian memilih Akupara Games sebagai penerbit?
Boy: Pertama, karena saya tahu Akupara dari beberapa game seperti Rain World dan Astrea. Selain mendengar reputasi Akupara sebagai penerbit yang sangat indie-friendly, saya juga pernah bertemu di Gamescom 2023.
Jadi, waktu pitching ke mereka di akhir tahun 2024 dan mendapat sambutan baik, kami tidak berpikir dua kali. Selain itu, agreement-nya sangat indie-friendly dan care terhadap kita.
Kalian juga bermitra dengan Rolling Glory. Bagaimana kemitraan itu bermula?
Boy: Kalau ini, saya kebetulan cukup dekat dengan Dominiku Damas [Putranto]. Sejak zaman saya masih di Joyseed, saya sering belajar kepada beliau, terutama perihal people dan culture.
Waktu memulai Mankibo, saya iseng mengajak berinvestasi di Mankibo. Dari ajakan itu, para pendiri Rolling Glory, Damas, Brian [Al Bahr], dan Wastu [Narwastu], akhirnya melakukan sedikit investasi di Mankibo.
Terinspirasi oleh Monster Rancher 2, PokéRogue, Slay the Spire, Hingga Mega Man Battle Network
Saya awalnya tertarik dengan Montabi karena deskripsi game kalian menyebutkan elemen creature collector dan saya teringat Monster Rancher EVO, salah satu game favorit saya di PS2. Apakah konsep awalnya berasal dari game tersebut atau asumsi saya berbeda jauh?
Boy: Lucunya, iterasi Montabi yang pertama adalah remake Monster Rancher 2. Waktu itu kami terinspirasi: “Kenapa tidak ada yang pernah membuat remake Monster Rancher 2, ya? Karena fantasy training dan battle itu relate dengan creature collector.”
Sayangnya, konsep itu kurang bisa kami eksekusi dengan baik, yang menyebabkan kami melakukan pivot menjadi roguelike deckbuilder yang sekarang. Berikut iterasi awal dulu.
Lucunya, iterasi Montabi yang pertama adalah remake Monster Rancher 2.
Bernardus Boy Dozan Poerniawan, Founder & CEO di Mankibo
Masih berkaitan dengan pertanyaan tadi. Game apa saja yang menginspirasi kalian saat mengembangkan Montabi?
Boy: Yang pasti salah satunya Pokémon, tapi waktu itu kami terinspirasi dari “fan game” yang membuat Pokémon roguelike, yaitu PokéRogue.
Dari sisi deckbuilding-nya, kami banyak referensi dari Slay the Spire, Wildfrost, StarVaders, dan Guardian Quest. Dari sisi gridnya, kami terinspirasi oleh Mega Man Battle Network.
Dilema Penggabungan Creature Collector dan Roguelike Deckbuilder

Apakah ada alasan mengapa kalian menambahkan elemen roguelike deckbuilder ke dalam Montabi? Saya jujur memang sedikit ragu melihat penggabungan antara elemen creature collector dan roguelike deckbuilder dalam sebuah game.
Boy: Betul, memang penggabungan berisiko dan audiensnya mengecil. Ini pembelajaran kami, karena kami kira jumlah audiens kami adalah penggabungan dari pemain roguelike deckbuilder dan creature collector, ternyata tidak.
Audiens Montabi bukan penggabungan keduanya, melainkan perpotongan, jadi audiens yang suka keduanya. Kami sering mendapatkan feedback dari pemain creature collector, seperti “sayang ini game roguelike deckbuilder” atau sesimpel “kok, mengulang dari awal lagi?”. Jadi mungkin bukan penggabungan yang sempurna.
Tetapi penentuan posisi Montabi saat ini lebih ke arah roguelike deckbuilder dengan bumbu creature collector. Dari beberapa playtest, kami cukup pede bahwa game ini berhasil menggabungkan kedua elemen tadi dengan baik. Terutama dari kacamata pemain roguelike deckbuilder, silakan di-review game kami dan pengalaman penggabungan ini.
Audiens Montabi bukan penggabungan keduanya, melainkan perpotongan, jadi audiens yang suka keduanya.
Bernardus Boy Dozan Poerniawan, Founder & CEO di Mankibo
Oh iya, ada satu game yang penggabungan keduanya cukup berhasil di pasar, yaitu Aethermancer. Tapi ini lebih ke arah creature collector dengan bumbu roguelike turn-based.
Bagaimana cara kalian menyeimbangkan elemen creature collector dan roguelike deckbuilder agar tetap menarik minat pemain?
Boy: Dari awal, inti pengalaman game ini lebih berat ke roguelike deckbuilder, jadi mungkin memang tidak seimbang. Jadi, game ini lebih bisa dinikmati oleh pemain roguelike deckbuilder, di mana game ini memiliki kesulitan yang cukup tinggi, banyak sinergi, dan banyak elemen taktis.
Salah satu usaha menyeimbangkannya adalah dengan memberikan pilihan kesulitan yang lebih luas, seperti casual difficulty. Jadi, pemain creature collector bisa terbiasa dulu dengan bermain di casual difficulty.
Penentuan Posisi Montabi Sangat Penting!

Saya merasa penentuan posisi karakter dan montabi saat melakukan combat 3×3 berbasis grid dapat menentukan kemenangan pemain. Apakah ada tantangan utama saat kalian mengimplementasikan elemen roguelike deckbuilder dengan faktor posisi ini?
Boy: Sebenarnya ini merupakan fitur andalan kami yang membuat Montabi berbeda dari game roguelike deckbuilder lainnya. Tantangan utamanya mungkin dari segi balancing, ya, karena ada cara menghindari damage dari musuh, yakni menghindar atau menggunakan armor. Jadi, membuat balancing menjadi lebih rumit.
Kenapa kalian memilih 3×3 berbasis grid? Kenapa tidak sekalian mencoba 4×4 atau 5×5?
Boy: Di awal kami banyak beriterasi, tetapi kami merasa 3×3 lebih cocok dan pas, di mana memperlebar grid ini akan menambah kompleksitas dan kurang cocok saat kami playtest.
Tidak Tutup Potensi DLC dan Sekuel Montabi

Desain montabi-nya harus saya akui sangat cerdik, mengingat beberapa montabi sangat terinspirasi dari barang-barang yang ada dalam kegiatan harian kita. Mengapa pilihan desainnya seperti itu?
Tentunya kami berharap bisa terus mengembangkan Montabi melalui DLC hingga sekuel di masa depan. Namun, kembali lagi, tetap bergantung pada bagaimana game ini diterima di pasar.
Angelina, Marketing di Mankibo
Audi Anindita (2D Artist): Dunia Montabi sendiri mengangkat tema modern dan urban. Maka dari itu, kebanyakan dari dasar desain montabi kami adalah barang sehari-hari, karena memang inspirasinya adalah perkotaan atau sesuatu yang familiar di kehidupan manusia.
Selain itu, kami juga ingin semua orang dari mana pun bisa relate dengan semua montabi yang ada. Maka kami juga mencoba mengangkat tema budaya beberapa negara.
Dengan berbagai montabi dan evolusinya, apakah ada rencana untuk menambahkan montabi baru melalui pembaruan atau DLC?
Angelina (Marketing): Tentunya kami berharap bisa terus mengembangkan Montabi melalui DLC hingga sekuel di masa depan. Namun, kembali lagi, tetap bergantung pada bagaimana game ini diterima di pasar.
Kami sudah memiliki konsep dan desain montabi baru yang dapat membuka lebih banyak kombinasi strategi dan sinergi yang menarik, jadi kami sangat ingin mewujudkannya jika ada kesempatan.
Bagaimana Nasib Pemain PlayStation dan Mobile?

Bagaimana perasaan kalian melihat Montabi bisa diluncurkan di XBOX dan Nintendo? Terutama dari kacamata pengembang yang memiliki penerbit.
Boy: Tentu senang, karena Nintendo, atau lebih tepatnya SNES, merupakan konsol pertama saya dulu waktu kecil.
Tapi ini juga merupakan pembelajaran tersendiri buat kami, karena simultaneous launch multiplatform ternyata sangat menantang. Itu karena sertifikasi dari platform-platform lain cukup ribet dan menantang.
Apakah kalian berencana membawa Montabi ke PlayStation dan mobile?
Boy: Tentu, kalau game ini sukses di pasar, kami ingin memperluasnya ke platform lain, seperti Playstation dan mobile.
Selain itu, game roguelike deckbuilder cukup nyaman dimainkan di mobile dan kami juga cukup siap dari sisi engine game dan lain-lain. Semoga saja Montabi sukses di pasar sehingga banyak justifikasi untuk membawa game ini ke platform lainnya.
Menjadi Pokémon-nya Indonesia dan Asia Tenggara

Di website Mankibo, kalian tampaknya menggoda game berikutnya setelah Montabi. Saya juga sekilas mendengar wawancara kalian dengan salah satu media lokal di YouTube, dan salah satu anggota kalian mengatakan game baru tersebut memasuki fase concepting, tetapi dunianya akan tetap menggunakan dunia Montabi. Kalau boleh tahu, proses game baru tersebut sudah sejauh apa?
Kami merasa ada potensi di ranah creature collector, terutama dengan warna baru seperti Montabi dan belum adanya “Pokémon-nya Indonesia”.
Bernardus Boy Dozan Poerniawan, Founder & CEO di Mankibo
Boy: Di website itu sebenarnya hanya placeholder saja dan dari awal sudah seperti itu. Tapi benar, kami akan fokus pada Montabi, di mana IP ini akan dikembangkan menjadi game lain dan produk media lainnya jika memungkinkan. Jadi, kami akan banyak membuat spin-off Montabi.
Kami merasa ada potensi di ranah creature collector, terutama dengan warna baru seperti Montabi dan belum adanya “Pokémon-nya Indonesia”. Semoga Montabi bisa menjadi “Pokémon-nya Asia Tenggara” dan menembus ke global sebagai sebuah IP baru.
Untuk proyek berikutnya, kami sebenarnya memiliki rencana proyek kecil yang awalnya mau menjadi marketing tools untuk Montabi. Genre-nya cozy, tapi saat ini masih di tahap awal sekali. Jadi planning menjadi marketing tools pun batal, karena Montabi akan rilis duluan pada 6 Agustus.
Untuk langkah selanjutnya, tentu kami sangat berharap Montabi bisa sukses di pasar, sehingga kami akan mencoba memeliharanya dengan DLC atau bahkan sekuel Montabi. Kalau game ini sukses, tentunya.
Pesan Penutup
Terima kasih kepada Mankibo yang telah bersedia untuk menyisihkan waktunya dan membahas Montabi bersama ReArchivu.
Sebagai penutup, Boy sebagai pendiri dan CEO Mankibo memiliki sebuah pesan bagi industri game Indonesia dan para pengembang baru yang sedang berusaha mencari jati diri melalui game pertama mereka:
Salah satu tantangan industri game Indonesia adalah bahwa kita langsung bersaing dengan pasar global, jadi mau tidak mau kita harus bisa bersaing secara kualitas dengan game dan pengembang global. Jadi, mulai saja dulu dan grinding pengalaman dengan meluncurkan game kalian.
Bernardus Boy Dozan Poerniawan, Founder & CEO di Mankibo














Discussion about this post