ReArchivu
DUKUNG KAMI
  • Home
  • News
  • Game
    • Platform
      • PC
      • PlayStation
      • Nintendo
      • Xbox
      • Mobile
    • JRPG
    • Game Indie
    • Game Retro
    • Game Lokal
    • Gamebiz
  • Review
    • Review Game
  • Pilihan Editor
    • Eksklusif
    • Interview
    • Essay
    • ReArchivu List
    • Panduan
  • Pop Culture
    • Animanga
    • Music
    • Film
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Game
    • Platform
      • PC
      • PlayStation
      • Nintendo
      • Xbox
      • Mobile
    • JRPG
    • Game Indie
    • Game Retro
    • Game Lokal
    • Gamebiz
  • Review
    • Review Game
  • Pilihan Editor
    • Eksklusif
    • Interview
    • Essay
    • ReArchivu List
    • Panduan
  • Pop Culture
    • Animanga
    • Music
    • Film
  • Video
No Result
View All Result
ReArchivu
No Result
View All Result
Home Game

Sistem Moralitas Fable Terbaru Dibuat Lebih Abu-Abu, Tidak Lagi Hitam Putih

Ignatius Wellson Theja SukrisnobyIgnatius Wellson Theja Sukrisno
January 30, 2026
in Game, News, Xbox

“Apa makna menjadi seorang pahlawan?” adalah sebuah pertanyaan yang selalu menjadi inti dari seri RPG ikonik Fable. Setiap pilihan sekecil apapun selalu memiliki konsekuensinya dalam membentuk diri anda dan bagaimana orang lain melihat anda.

Baca Juga: 15 Game Dengan Ending Terbanyak, Cocok Untuk Yang Menyukai Replaybility Tinggi

Kini Fable akan kembali melalui soft rebootnya yang digarap oleh Playground Games, dan kembali menghadirkan pertanyaan moralitas yang sama dengan sistem moralitas Fable yang baru. Alih-alih mengusung pendekatan hitam-putih ekstrem seperti di Fable 3—yang kerap menyajikan dilema dengan pilihan yang jelas mengarah ke baik versus jahat—Fable versi reboot mengambil arah berbeda.

Baca Juga

CEO XBOX, Phil Spencer Pensiun dan Presiden XBOX, Sarah Bond Mengundurkan Diri

CEO XBOX, Phil Spencer Pensiun dan Presiden XBOX, Sarah Bond Mengundurkan Diri

February 24, 2026
Lagi-Lagi Ditolak, Paten Sistem Tangkap Monster Milik Nintendo Terbaru Dijegal JPO

Lagi-Lagi Ditolak, Paten Sistem Tangkap Monster Milik Nintendo Terbaru Dijegal JPO

May 21, 2026
Assassin’s Creed Shadows Telah Mendapatkan Rating Di Eropa Untuk Konsol Nintendo Switch 2

Assassin’s Creed Shadows Telah Mendapatkan Rating Di Eropa Untuk Konsol Nintendo Switch 2

April 21, 2025
Penjualan Tembus 2,7 Juta Kopi dalam Seminggu, IO Interactive Lepas Roadmap Year One 007 First Light

Penjualan Tembus 2,7 Juta Kopi dalam Seminggu, IO Interactive Lepas Roadmap Year One 007 First Light

June 7, 2026

Melansir dari interview yang dilakukan GamesRadar+, pendekatan ini terhubung langsung dengan sistem reputasi baru serta populasi hidup yang terdiri dari 1.000 NPC unik yang mendiami dunia Albion.

“Kami memilih pendekatan moralitas yang jauh lebih bernuansa abu-abu, Apa pun yang kamu lakukan adalah benar-benar tindakanmu sendiri, dan jika kamu cukup sering melakukannya—atau jika cukup banyak orang melihatmu melakukannya—kamu akan membangun reputasi tertentu di pemukiman atau wilayah dunia tersebut berdasarkan tindakan itu.” -ujar Ralph Fulton, General Manager Playground Games.

Setiap Tindakan Memiliki Konsekuensi

Pemain bebas menentukan sendiri bagaimana mereka ingin menjalani petualangan di Fable. Namun, setiap tindakan dan keputusan tidak pernah luput dari perhatian. Inilah fondasi utama sistem moralitas di Albion. Setiap NPC memiliki keyakinan dan sudut pandang berbeda, sehingga reaksi mereka terhadap perbuatan pemain pun tidak pernah seragam.

Menurut Ralph Fulton, General Manager Playground Games, penilaian moral dalam Fable kini bergerak ke arah yang lebih abu-abu. “Setiap orang akan menilai apa yang kamu lakukan berdasarkan pandangan hidup mereka masing-masing,” ujarnya. “Memang ini adalah representasi dalam bentuk sistem game, tetapi justru terasa lebih dekat dengan bagaimana moralitas bekerja di dunia nyata saat ini. Dan sebagai mekanik permainan, ini sangat menarik, detail, serta menyenangkan untuk dimainkan.”

Fulton menambahkan bahwa sistem ini dipenuhi rangkaian umpan balik dan konsekuensi yang saling berkaitan. Saat pemain berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, bertemu karakter berbeda, melakukan beragam aksi, serta membangun reputasi yang unik di tiap komunitas, hasilnya akan selalu bervariasi.

“Game ini tidak secara langsung menghakimi pemain. Namun penduduk Albion akan melakukannya. NPC berfungsi layaknya paduan suara Yunani kuno—mereka akan menyuarakan pendapat tentang apa yang telah kamu lakukan. Itulah esensi klasik Fable, dan kini diterapkan dalam sistem moral yang jauh lebih bernuansa.”

Berbeda dengan trilogi Fable sebelumnya, di mana pemain diberi gelar tertentu berdasarkan kecenderungan baik atau jahat, reboot ini meninggalkan sistem tersebut. Playground memilih pendekatan baru yang mengandalkan sistem “kesaksian” serta kepribadian masing-masing NPC.

“Cara orang menyebutmu dan membicarakanmu kini sepenuhnya ditentukan oleh apa yang mereka ketahui tentang tindakanmu, Menariknya, mereka harus benar-benar melihatmu melakukan sesuatu terlebih dahulu sebelum reputasi itu terbentuk.”

Pendekatan ini juga mempertahankan elemen penting dari game dunia terbuka: kemungkinan melakukan sesuatu secara diam-diam tanpa konsekuensi langsung.

“Jika tidak ada yang melihat, maka tidak ada reputasi yang terbentuk, penduduk Albion mengenalmu berdasarkan apa yang mereka tahu telah kamu lakukan dan bagaimana perasaan mereka terhadap hal itu.” -Lanjut Fulton

Komitmen Untuk Menjaga Fable Faithfull Pada Seri Aslinya

Saat Fable 2 dirilis pada 2008, sistem moralitasnya terasa revolusioner karena membuat pemain merasa benar-benar memengaruhi dunia. Namun seiring waktu, sistem moral hitam-putih semakin jarang digunakan dalam RPG modern.

Game seperti The Witcher 3 memperkenalkan dilema moral yang jauh lebih subjektif dan tidak sederhana. Arah baru Fable yang memilih spektrum abu-abu terasa selaras dengan evolusi tersebut.

“Kami banyak mendiskusikan moralitas sejak awal pengembangan, kami meninjau kembali bagaimana game Fable lama menampilkan spektrum baik dan jahat yang sangat biner—bahkan sampai tercermin di desain sampulnya.”

Ia menambahkan bahwa pendekatan baru ini juga terinspirasi oleh realitas dunia nyata.

“Tidak ada kebaikan atau kejahatan yang sepenuhnya objektif. Hampir tidak mungkin menemukan satu tindakan yang disepakati semua orang sebagai benar atau salah. Semuanya subjektif, dan itulah yang kami anggap menarik—baik sebagai refleksi dunia nyata maupun sebagai sistem permainan.”

Kedalaman sistem reputasi ini baru akan benar-benar terasa saat pemain menjelajahi Albion nanti. Fulton mengisyaratkan akan ada banyak tindakan—besar maupun kecil—yang dapat membentuk reputasi pemain di berbagai wilayah.

Seseorang mungkin melihatmu bersikap murah hati, tidak jujur, atau bahkan memergokimu menjalani hubungan ganda. Semua itu bisa berdampak langsung pada cara dunia bereaksi terhadapmu.

Playground juga menghilangkan faktor penampilan fisik sebagai penentu reputasi, sesuatu yang sebelumnya ada di seri lama. Kini, cara berpakaian tidak lagi memengaruhi penilaian moral. “Kustomisasi seharusnya soal personalisasi,” kata Fulton. “Apa pun pilihan gaya pemain, itu sah-sah saja. Role-play harus datang dari tindakan, bukan penampilan.”

Baca Juga: Game Yang Dulu Dibenci Sekarang Dicintai, Inilah Game Dengan Redemption Arc Terbaik Sepanjang Sejarah

Sejalan dengan itu, reboot Fable menghadirkan sistem kustomisasi karakter yang jauh lebih bebas. Pemain dapat memilih berbagai bentuk wajah, lalu menyesuaikannya dengan pakaian, gaya rambut, warna kulit, tato, hingga bekas luka. Semua ini kembali ke pertanyaan utama yang ingin dijawab Playground Games: apa arti menjadi seorang pahlawan bagi tiap pemain?

“Peran kami adalah memastikan pemain bisa menjadi pahlawan versi mereka sendiri, dengan kebebasan kustomisasi dan sistem moral yang responsif, kami ingin setiap pemain benar-benar merasakan bahwa Albion bereaksi terhadap siapa mereka dan apa yang mereka lakukan.” – tutup Fulton

Tags: Berita GameFableFable SeriesPlayground Games
Share130Tweet82ShareShare
Ignatius Wellson Theja Sukrisno

Ignatius Wellson Theja Sukrisno

Connoisseur of everything nerdy! I mostly talk about RPG games but i also talk about other things. Di luar jurnalisme saya juga adalah seorang multimedia designer, mulai dari mengkomposisikan gambar bergerak hingga video. Saat ini saya fokus dalam studi saya di Sastra Jepang. For inquiry contact me at: [email protected]

Baca Selanjutnya

Sutradara Final Fantasy VII Revelation Pertimbangkan DLC Bergaya EPISODE INTERmission
News

Sutradara Final Fantasy VII Revelation Pertimbangkan DLC Bergaya EPISODE INTERmission

byFransiskus Sukardi Ruata
August 2, 2026
0

Naoki Hamaguchi mengungkapkan bahwa seri Final Fantasy VII Remake akan diakhiri dengan Final Fantasy VII Revelation.

Read moreDetails
hololive Dreams Gabungkan Elemen RPG dan Ritme untuk Kejar Audiens yang Lebih Luas

Kejar Audiens yang Lebih Luas, hololive Dreams Gabungkan Elemen RPG dan Ritme!

August 2, 2026
Ingin Berikan Kebebasan ke Studio yang Bermitra, Konami Akui Tidak Punya Kitab Suci Silent Hill

Ingin Berikan Kebebasan ke Studio yang Bermitra, Konami Akui Tidak Punya Kitab Suci Silent Hill

August 1, 2026
Semakin Kuat di PC, Penjualan Seri Final Fantasy VII Remake Diklaim Lebih Baik dari yang Diharapkan Square Enix!

Semakin Kuat di PC, Penjualan Seri Final Fantasy VII Remake Diklaim Lebih Baik dari yang Diharapkan Square Enix!

August 1, 2026
SWORD OF JUSTICE Rilis Season 1.3.1

SWORD OF JUSTICE Rilis Season 1.3.1

August 1, 2026

Discussion about this post

We Are Social!

Pilihan Editor

Review Echoes of Aincrad – Potensi Serba Terbatas

Review Echoes of Aincrad – Potensi Serba Terbatas

35 Game Baru di Bulan Agustus 2026

35 Game Baru di Bulan Agustus 2026

July 29, 2026
Review Granblue Fantasy: Relink - Endless Ragnarok - 2 Tahun Setelah Perilisan, Apa Saja yang Baru? Masih Worth It?

Review Granblue Fantasy: Relink – Endless Ragnarok – 2 Tahun Setelah Perilisan, Apa Saja yang Baru? Masih Worth It?

Nostalgia Game Adaptasi Film Paling Ikonik: Dari The Warriors hingga King Kong

Nostalgia Game Adaptasi Film Paling Ikonik: Dari The Warriors hingga King Kong

July 17, 2026
Review Assassin's Creed Black Flag Resynced - Lebih Mirip "Patch Besar" daripada Remake

Review Assassin’s Creed Black Flag Resynced – Lebih Mirip “Patch Besar” daripada Remake

ArchivExpose Asbak - Sekawan UI, Adam Style, Variasi Hantu Indonesia, Trendsetter Game Aksi 2D, Steam, dan Rencana Early Access

ArchivExpose Asbak – Sekawan UI, “Adam Style”, Variasi Hantu Indonesia, Trendsetter Game Aksi 2D, Steam, dan Rencana Early Access

July 7, 2026
ReArchivu

© 2024-2026 ReArchivu - All Rights Reserved.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Review
  • Privacy Policy

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Game
    • Platform
      • PC
      • PlayStation
      • Nintendo
      • Xbox
      • Mobile
    • JRPG
    • Game Indie
    • Game Retro
    • Game Lokal
    • Gamebiz
  • Review
    • Review Game
  • Pilihan Editor
    • Eksklusif
    • Interview
    • Essay
    • ReArchivu List
    • Panduan
  • Pop Culture
    • Animanga
    • Music
    • Film
  • Video

© 2024-2026 ReArchivu - All Rights Reserved.