CEO Larian Studios, Swen Vincke, sebelumnya mengungkapkan bahwa studio pengembang Baldur’s Gate 3 tersebut memanfaatkan AI generatif untuk membantu sejumlah pekerjaan prototipe, seperti membuat level sementara yang digunakan desainer sebagai bahan awal sebelum akhirnya diganti dengan aset buatan tangan.
Pernyataan ini awalnya tidak menimbulkan banyak reaksi, namun komentar serupa dalam wawancara terbarunya dengan Bloomberg terkait RPG besar Larian berikutnya, Divinity, justru memicu gelombang kritik yang kini coba diluruskan oleh pihak studio.
Baca Juga: Divinity Terbaru Akan Jadi Game Turn Based Namun Tapi Tidak Berbasis Ruleset DND
Dalam laporan Bloomberg, Larian disebut tengah “menggenjot” penggunaan AI generatif, dengan para pengembangnya dikatakan sering memakai alat AI untuk mengeksplorasi ide, mengembangkan presentasi PowerPoint, merancang concept art, serta menulis teks placeholder.
Menanggapi hal tersebut, Vincke kembali menegaskan bahwa Larian sama sekali tidak menggunakan AI generatif untuk menciptakan karya seni, suara, maupun tulisan yang benar-benar muncul di dalam game mereka.
Setelah wawancara itu dipublikasikan, ia juga menekankan bahwa istilah “menggenjot” tidak mencerminkan kebijakan AI di Larian secara akurat, serta menjelaskan bahwa AI tidak digunakan “untuk mengembangkan concept art” menurut sudut pandangnya—meskipun memang dimanfaatkan pada tahap ideasi paling awal.

Sebelumnya, Vincke juga telah menolak anggapan bahwa AI generatif dapat menggantikan pekerja kreatif. Ia mencontohkan bahwa ketika studio membutuhkan lebih banyak concept art pada April lalu, Larian justru merekrut 15 concept artist tambahan.
Meski demikian, kabar mengenai penggunaan AI generatif di Larian tetap dipersepsikan negatif oleh sebagian penggemar, yang kemudian menyuarakan kekecewaan mereka di media sosial. Bahkan, seorang mantan karyawan secara terbuka meminta studio untuk mempertimbangkan ulang arah kebijakannya.
Selena Tobin, seniman yang tercatat sebagai junior environment artist di Baldur’s Gate 3, menulis di Bluesky bahwa ia menikmati bekerja di Larian “hingga AI mulai terlibat.”
“Segera pertimbangkan ulang dan ubah arah kalian. Tunjukkan penghargaan kepada karyawan kalian. Mereka adalah talenta kelas dunia dan tidak membutuhkan bantuan AI untuk menciptakan ide-ide luar biasa.”
Sebagian pihak lain juga mulai berspekulasi tentang kemungkinan aset placeholder buatan AI tanpa sengaja lolos dan masuk ke Divinity, sebuah kejadian yang telah beberapa kali terjadi di game lain, termasuk pemenang The Game Awards tahun ini, Clair Obscur.

Menanggapi kritik tersebut, direktur publishing Larian, Michael Douse, memberikan pernyataan di X dengan membandingkan pendekatan Larian terhadap AI dengan praktik pengembang lain yang lebih problematik, seperti secara langsung memasukkan aset AI ke dalam game atau menggunakan AI sebagai dalih untuk melakukan pemutusan hubungan kerja.
“Sejak April, sikap kami terhadap penggunaan AI dalam alur kerja sudah jelas, jadi saya tidak yakin mengapa ini tiba-tiba menjadi kontroversi sekarang, apalagi soal momennya,” tulis Douse.
Vincke sendiri kemudian kembali menjelaskan kebijakan AI Larian lewat X dengan nada frustrasi, sekali lagi menolak anggapan bahwa studio “menggenjot” penggunaan AI, serta menegaskan bahwa AI hanya digunakan untuk eksplorasi ide dan penyusunan komposisi kasar, tidak lebih dari itu.
“Serius, kami tidak ‘menggenjot’ AI atau menggantikan concept artist dengan AI,” tulis Vincke. “Kami memiliki tim berisi 72 seniman, termasuk 23 concept artist, dan kami masih terus merekrut. Karya seni yang mereka hasilkan sepenuhnya orisinal, dan saya sangat bangga dengan hasil kerja mereka.
“Saya ditanya secara spesifik tentang concept art dan penggunaan AI generatif kami. Saya menjawab bahwa AI dipakai untuk eksplorasi ide. Saya tidak pernah mengatakan bahwa AI digunakan untuk mengembangkan concept art. Itu sepenuhnya dikerjakan oleh para seniman, yang memang kelas dunia. Kami menggunakan AI untuk mencari dan mengeksplorasi referensi, sama seperti memakai Google atau buku seni. Pada tahap ideasi paling awal, AI hanya dipakai sebagai gambaran kasar komposisi, yang kemudian digantikan oleh concept art orisinal. Tidak ada perbandingan antara keduanya.”
Sebagai penutup, Vincke merujuk pada wawancara Gamespot pada April lalu untuk penjelasan lebih mendalam, serta menambahkan bahwa Larian merekrut para kreator karena kemampuan dan bakat mereka, bukan karena kesanggupan mengikuti saran mesin, sambil tetap memberi kebebasan bagi mereka untuk bereksperimen dengan alat-alat tersebut demi mempermudah pekerjaan sehari-hari.















Discussion about this post