Meskipun seri ini telah berada di puncak kejayaan selama beberapa dekade, Diablo nyaris tidak pernah sampai ke rak toko. Game action-RPG yang mendefinisikan genre tersebut hampir mati karena kebangkrutan, sebelum akhirnya Blizzard memberikan tawaran penyelamat di detik-detik terakhir bagi para pengembang di balik proyek yang baru seumur jagung itu.
Perlu diketahui, Diablo adalah ide orisinal dari studio bernama Condor pada awal tahun 90-an. Meskipun pengerjaannya terus berjalan, keuangan mereka tampak semakin menipis, hingga datang panggilan mendadak dari perusahaan di balik Warcraft.
“Tawarannya tidak terduga, tetapi sangat disambut baik. Petugas pajak benar-benar sudah ada di depan pintu, mengancam akan menutup kami,” ungkap Erich Schaeffer, pendiri Condor, kepada majalah Edge yang kini dicetak ulang dalam Playmakers (dilansir melalui GamesRadar+).

Blizzard tidak hanya menawarkan pendanaan, tetapi juga mengakuisisi Condor dan mengubahnya menjadi Blizzard North. Seketika, sumber daya menjadi melimpah, membuka berbagai kemungkinan baru bagi Diablo.
Hal ini sepenuhnya mengubah cakupan game RPG bertema neraka tersebut, dan terbukti menjadi momen krusial bagi industri game secara keseluruhan.
“Pada saat itu anggarannya sangat rendah, di bawah setengah juta dolar, setelah kami diakuisisi, kami duduk bersama untuk menentukan apa yang bisa kami lakukan sekarang setelah bebas dari kendala anggaran dan memiliki sedikit waktu ekstra. Bagaimana kami bisa membuat ini menjadi sebesar mungkin?” tambah Max Schaffer
Demikianlah, dunia akhirnya diperkenalkan dengan Kerajaan Khanduras pada tahun 1997, dan Diablo langsung menjadi game terlaris. Sekuelnya segera diumumkan, dan tiga tahun kemudian, Diablo 2 hadir dengan kesuksesan yang bahkan lebih besar.
Seri kedua tersebut tetap menjadi standar utama bagi game dungeon-crawling berbasisloot, yang kemudian mendapatkan versi remaster pada tahun 2021.
Namun, semuanya berawal dari Diablo, sebuah eksperimen kecil yang menggabungkan elemen Dungeons and Dragons dengan struktur roguelike. Siapa sangka bahwa sebuah “badai salju” (blizzard) adalah satu-satunya hal yang dibutuhkan oleh petualangan menembus neraka tersebut untuk bisa bertahan hidup?















Discussion about this post