Salah satu maestro dan auteur industri game, Hideo Kojima, baru-baru ini mengungkapkan evolusi kreativitas dalam pengembangan Death Stranding 2: On the Beach, termasuk pandangan pribadinya terkait game sebagai sebuah media hiburan.
Bagi Kojima, game bukanlah sebuah media yang eksklusif dan ia memiliki visi bahwa sebuah game seharusnya menjadi titik awal bagi para pemain untuk mengeksplorasi dunia hiburan yang lebih luas. Kojima juga mengkritik kecenderungan industri ini yang membuat game seolah-olah hanya hidup di dunianya sendiri.
“Instrumen musik itu hebat,” ujar Kojima saat membahas instrumen handpan bersama aktris Shioli Kutsuna di Vogue Japan. “Saya sendiri sangat buruk dalam memainkannya, jadi saya tidak bisa membuat musik. Saya harus menyerahkan itu kepada orang lain.”
Dengan Death Stranding 2, Hideo Kojima Ingin Ajak Pemain Rasakan Elemen Film, Musik, dan Novel

Kojima melanjutkan, “Tetapi sungguh luar biasa bagaimana membenamkan diri dalam sesuatu yang Anda sukai dapat memperluas dunia Anda. Bahkan, itu adalah sesuatu yang sangat saya sadari ketika membuat game. Saya sengaja menyebarkan elemen-elemen film, musik, novel, dan seni yang saya sukai di seluruh karya saya. Itulah juga mengapa saya aktif berkolaborasi dengan dunia model.”
“Ambil contoh band Low Roar dari game sebelumnya. Ketika seseorang mendengar sebuah lagu dalam game dan merasa ‘oh, saya suka ini’, saya ingin percikan itu menuntun mereka untuk menemukan band tersebut, untuk menjelajahi musik Islandia lebih dalam, atau bahkan untuk mencari film-film terkait.”
Kojima menambahkan, “Saya percaya itulah peran yang seharusnya dimainkan oleh hiburan. Game cenderung tetap menjadi sistem tertutup yang hanya ada di dalam dirinya sendiri, tetapi saya ingin pemain melangkah keluar dari itu.”
Death Stranding 2: On the Beach sudah tersedia di PS5 dan PC (Steam, Epic Games Store).















Discussion about this post