Masafumi Takada, komposer untuk The Hundred Line: Last Defense Academy dan Danganronpa, baru baru ini membahas perubahan yang belakangan ini ia rasakan dalam dunia musik game.
Hal itu disampaikan dalam wawancara dengan AUTOMATON Japan, menurut Takada, saat ini musik semakin sering diperlakukan sebagai elemen yang berdiri sendiri, bukan lagi bagian yang menyatu dengan gameplay dan pembangunan dunia (worldbuilding), sehingga menimbulkan ketidaksinkronan dalam sebuah game.
Takada sendiri merupakan komposer veteran yang telah menggarap musik untuk berbagai judul, mulai dari The Silver Case karya Suda 51, Earth Defense Force, Digimon Story, hingga Super Smash Bros.. Dikenal lewat penggunaan synthesizer yang khas, karya terbarunya adalah soundtrack orisinal berskala besar untuk The Hundred Line: Last Defense Academy besutan Too Kyo Games.
Dalam proses pembuatan OST tersebut, Takada menekankan bahwa ia sangat memperhatikan agar musiknya benar-benar berfungsi sebagai bagian dari atmosfer dan kerangka dunia The Hundred Line yang menyeramkan. Sejalan dengan itu, ia juga mengamati bahwa semakin banyak game di mana musiknya terasa tidak selaras dengan keseluruhan pengalaman bermain.
“Belakangan ini, ada satu hal yang agak mengganggu saya. Walaupun musik game sering kali sangat kaya dan berkualitas tinggi, semakin sering saya menemui kasus di mana musik tersebut tidak benar-benar menyatu dengan pengalaman gameplay-nya. Jujur saja, terkadang terasa seperti mereka hanya membuat musik yang bagus, bukan benar-benar membuat sebuah game.”
Ia melanjutkan:
“Kalau melihat ulasan game, kadang ada komentar seperti ‘musiknya bagus’, dan itu sebenarnya bukan pujian untuk musiknya. Itu berarti musiknya justru lebih menonjol dibandingkan gamenya sendiri. Dengan kata lain, bukan sebuah game yang kohesif yang tercipta, melainkan pengalaman bermain dan musiknya tidak selaras. Saya ingin orang-orang memikirkan hal ini. Karena itulah, ketika saya membuat musik, saya selalu mempertimbangkan semua aspek tersebut agar keseluruhan pengalaman bermain game tetap menghibur.”
Alih-alih mengkritik kualitas soundtrack game, Takada tampaknya ingin menyoroti perubahan dalam sejauh mana proses pembuatan musik terintegrasi dengan aspek pengembangan lain, seperti skenario dan sistem gameplay.















Discussion about this post