Keputusan Sony untuk menghentikan produksi game fisik untuk rilis game PlayStation terbaru pada tahun 2028 sebagian besar memang ditanggapi dengan sangat buruk. Namun, kreator seri God of War justru berpendapat bahwa langkah tersebut terasa masuk akal jika kita mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan mayoritas pengguna.
Ada banyak alasan mengapa orang-orang sangat menentang keputusan untuk “membunuh” game fisik dan beralih sepenuhnya ke masa depan serba digital. Mulai dari masalah preservasi game dan isu hak kepemilikan, hingga dampaknya terhadap pasar game bekas—serta fakta sederhana bahwa kopi fisik sebuah game biasanya menjadi lebih murah dalam jangka panjang dibandingkan versi digitalnya.
Kita telah melihat berbagai rentetan kekhawatiran dari para pemain, developer, maupun publisher. Akan tetapi, sebagian pihak berpendapat bahwa dari sudut pandang kacamata bisnis Sony, langkah ini sangat bisa dimaklumi.
Kebutuhan Mayoritas vs. Minoritas
Salah satu pihak yang memaklumi hal ini adalah David Jaffe, kreator seri God of War yang juga menjabat sebagai sutradara untuk dua game pertamanya. Ia setuju dengan pepatah bahwa “bagi sebagian besar pemilik bisnis, pelanggan selalu benar”, tetapi mentalitas tersebut menjadi rumit “ketika Anda memiliki kelompok pelanggan berbeda yang menginginkan hal-hal yang berbeda pula.”
Dalam kasus ini, Jaffe menyarankan ada faktor utama lain yang harus dipertimbangkan:
“Kebutuhan pelanggan yang jumlahnya banyak tentu melampaui kebutuhan pelanggan yang jumlahnya lebih sedikit.”
Angka penjualan semakin menunjukkan bahwa format digital menjadi opsi yang jauh lebih populer saat ini dibandingkan fisik. Sebagai contoh, bulan lalu dilaporkan bahwa hanya ada tujuh game PlayStation yang berhasil terjual di atas 100.000 kopi fisik di Amerika Serikat sepanjang tahun ini.
Masalah Margin Keuntungan
Mantan Direktur Pengembangan Bisnis Square Enix, Jacob Navok, juga menyoroti perbedaan margin keuntungan yang didapatkan oleh pemegang platform (seperti PlayStation) dan publisher game ketika menjual kopi game fisik dengan harga yang sama persis dengan versi digital. Hal ini dipengaruhi oleh hilangnya potensi uang dari biaya produksi kaset, kopi game yang dicuri di toko, diska yang cacat, dan banyak lagi.
“Jika pelanggan-pelanggan ini benar-benar menghargai format fisik sebesar yang mereka gembar-gemborkan… mereka pasti bersedia membayar lebih mahal! Masalahnya, para pemain ingin serba untung. Mereka menolak membuktikan omongannya dengan dompet mereka. Sebaliknya, mereka justru ingin Sony yang menanggung kerugian biayanya.” ujar Navok
Meskipun perbedaan metrik keuntungan tersebut adalah poin yang masuk akal, argumen bagian kedua Navok jelas memunculkan pertanyaan. Lagipula, jika orang-orang sebenarnya tidak dikenakan biaya yang lebih tinggi untuk game fisik mereka, tentu saja mereka tidak akan membayar lebih. Konsumen tidak menentukan harga sendiri, jadi rasanya sulit untuk menyebut mereka egois dalam konteks tersebut.
Kita tidak bisa tahu berapa banyak orang yang bersedia membayar lebih mahal tanpa melihatnya terjadi secara langsung. Seiring dengan harga teknologi yang semakin meroket, bukan hal yang mustahil jika akan terjadi penurunan penjualan, tetapi saya yakin banyak kolektor dan pencinta media fisik yang akan tetap bersedia membayar ekstra.
Namun pada akhirnya, kita kembali lagi ke poin Jaffe—mayoritas versus minoritas. Apakah Sony bersedia terus bersusah payah demi sebagian kecil pelanggannya yang berdedikasi namun jumlahnya terus menyusut?
Mengingat minggu lalu perusahaan ini justru bersikukuh mempertahankan keputusannya untuk mematikan format fisik—mengakui adanya “pandangan keras” dari pemain tetapi menyatakan bahwa mereka “tidak melihat adanya dampak negatif terhadap bisnis kami”—tampaknya kita (sayangnya) sudah mendapatkan jawabannya.















Discussion about this post