Vinit Agarwal, seorang pengembang game yang sebelumnya bekerja di Naughty Dog, telah memutuskan untuk pindah ke Jepang dan membentuk sebuah studio game baru. Nama studio dan judul game multiplayer pertama mereka masih dirahasiakan, tetapi Agarwal bertekad untuk menerapkan apa yang dia pelajari selama bekerja di Naughty Dog ke dalam lingkup pengembangan game di Jepang.

Baca Juga: Naughty Dog Kembangkan Game Baru Selain Intergalactic: The Heretic Prophet
Tinggalkan Naughty Dog, Untuk Membuat Game Aksi Sinematik dengan Multiplayer


Dalam wawancara eksklusif bersama Game*Spark, Agarwal menyatakan bahwa motivasi utamanya meninggalkan Naughty Dog adalah untuk menjelajahi potensi menciptakan game multiplayer yang menyuguhkan aksi sinematik seperti yang menjadi ciri khas studio tersebut. Dengan latar belakang pekerjaan pada Uncharted 4: A Thief’s End, Uncharted: The Lost Legacy, hingga The Last of Us Part II—termasuk mode multipemain yang dibatalkan dari game terakhir—Agarwal mendirikan perusahaan baru bersama Joe Pettinati, mantan naratif lead dan direktur kreatif di Naughty Dog. Pettinati tetap berada di AS, sementara Agarwal berpindah ke Jepang, memungkinkan pengembangan dilakukan dari dua basis berbeda.
Agarwal sangat terinspirasi oleh budaya kerja di Naughty Dog, di mana perancangan detail dan penyesuaian kecil sangat dihargai — terutama dalam membangun dunia dan narasi game. Ia juga menyebutkan bagaimana perusahaan tersebut mempraktikkan budaya “No Bad Ideas”: setiap ide, dari posisi berapa pun, memiliki kesempatan didengar dan dipertimbangkan, dan ini merupakan sesuatu yang ingin ia bawa ke dalam studionya sendiri
Gaya “Auteur-Driven” ala FromSoftware


Agarwal menyampaikan bahwa sejak awal kariernya di industri game, ia sangat terinspirasi oleh beberapa aspek pengembangan game Jepang, terutama fokus pada visi kreatif sang sutradara (director’s vision). Setelah berbicara dengan Hidetaka Miyazaki dari FromSoftware (pencipta Dark Souls, Bloodborne, dan Elden Ring), ia kembali diingatkan akan kekagumannya terhadap gaya pengembangan yang sangat personal dan visioner tersebut — gaya yang ingin ia terapkan di studio barunya
Genre “Triple-Indie” & Teknologi yang Digunakan
Judul game yang tengah mereka kerjakan digambarkan sebagai “triple-indie”, yakni kombinasi antara narasi dan sinematik ala AAA dengan kecepatan dan fleksibilitas pengembangan ala game indie. Proyek ini dibangun menggunakan Unreal Engine 5, dan pengujian internal (playtesting) akan segera dimulai. Dengan menggaet insinyur game dari Jepang, Agarwal berusaha menyatukan keunggulan teknik dan kreatif dari dua dunia — timur dan barat.















Discussion about this post