Nintendo baru-baru ini berargumen bahwa modifikasi (mod) game tidak dapat dijadikan contoh “prior art” untuk membatalkan paten — seperti paten yang mereka gunakan dalam gugatan terhadap pengembang Palworld, Pocketpair. Namun, menurut seorang pakar hukum paten asal AS, pandangan Nintendo ini “salah besar sampai menyakitkan.”
Baca Juga: Developer Palworld Kembali Lawan Nintendo! Sebut Mod Dark Souls 3 Batalkan Paten Baru Nintendo
Gugatan Nintendo dan The Pokémon Company terhadap Pocketpair sudah berlangsung lebih dari setahun. Kedua perusahaan menuduh bahwa pengembang Palworld telah melanggar sejumlah paten, termasuk yang berkaitan dengan mekanisme menangkap makhluk mirip Poké Ball serta fitur menunggangi makhluk.
Salah satu argumen pembelaan Pocketpair adalah dengan menunjukkan contoh “prior art” — bukti bahwa suatu penemuan sudah dikenal sebelum paten tersebut diajukan — yang bisa membuktikan apakah sebuah ide benar-benar layak dipatenkan.

Salah satu contoh yang diajukan Pocketpair adalah Pocket Souls, sebuah mod untuk game Dark Souls 3 yang mengubah permainan FromSoftware tersebut menjadi versi mirip Pokémon. Namun, Nintendo berpendapat bahwa mod tidak dapat dianggap sebagai prior art karena mod tidak bisa berdiri sendiri tanpa game dasarnya.
Berbicara kepada Grokludo dalam sebuah wawancara, Kirk Sigmon, seorang ahli paten amerika di firma Banner Witcoff, menyebut bahwa
“Nintendo benar-benar salah, ini menyakitkan. Saya tidak tahu mengapa mereka membuat argumen seperti itu. Mungkin ada nuansa dalam hukum Jepang yang menjelaskan dari mana sudut pandang mereka berasal, tetapi secara umum, dalam konteks hukum paten global, prior art tidak harus sempurna. Bahkan, tidak perlu berfungsi sepenuhnya.”
Sigmon mencontohkan sebuah kasus inter partes review (semacam sidang untuk meninjau validitas paten) yang menggunakan buku panduan Dungeons & Dragons sebagai prior art — padahal itu bukan video game, melainkan hanya menjelaskan mekanisme seperti lembar karakter.
“Kita tidak harus mencari prior art yang persis sama. Tidak harus produk yang dipasarkan. Sering kali, syarat minimalnya hanya bahwa sesuatu itu terdokumentasi dan dapat dibuktikan tanggal keberadaannya. Jadi argumen Nintendo bahwa mod itu berbeda menurut saya adalah hal paling konyol yang pernah saya dengar. Itu terdengar seperti dibuat oleh seseorang yang sama sekali tidak memahami komputer.”
Lebih jauh lagi, Sigmon menegaskan bahwa mod tetap memiliki nilai hukum, karena jika sebuah mod memperkenalkan fungsi tertentu, itu sudah cukup untuk dijadikan prior art.
“Saya pernah berhadapan dengan kantor paten dan menggunakan referensi yang bahkan belum pernah diwujudkan menjadi produk nyata, dan itu tetap sah dianggap prior art — setidaknya di Amerika Serikat,” ujarnya.
Sigmon mengakui mungkin ada perbedaan dalam hukum paten Jepang, namun secara umum ia menilai argumen Nintendo sebagai “lemah” dan terlalu fokus pada bentuk, bukan fungsi.
“Kalau kita mengikuti logika itu, di mana batasnya? Banyak game yang dibuat dengan Unreal Engine 5 — apakah mereka juga dianggap mod karena bergantung pada satu mesin yang sama? Itu akan membuat perdebatan ini tidak masuk akal. Menurut saya, di lubuk hati mereka tahu paten-paten itu lemah. Mereka tidak ingin paten tersebut dibatalkan atau mendapat catatan buruk. Tapi menggunakan argumen soal mod? Itu langkah yang sangat keliru. Saya tidak akan pernah membuat argumen seperti itu seumur hidup saya.”
Tentu saja, gugatan ini masih berjalan, jadi hasil akhirnya belum bisa dipastikan. Namun, menurut Sigmon, penolakan Nintendo terhadap mod sebagai prior art kemungkinan tidak sesederhana yang mereka bayangkan.















Discussion about this post