Berlatar di masa depan, cerita Pragmata mengikuti dua protagonis, Hugh dan Diana, saat mereka menembak dan meretas jalan mereka melalui sebuah stasiun riset di Bulan.
Dalam wawancara terbaru dengan media Korea ThisIsGame, sutradara Pragmata Yonghee Cho dan produser Naoto Oyama membahas tantangan dalam menciptakan cerita dalam genre fiksi ilmiah.
Mereka juga mengungkap bahwa pembangunan dunia (worldbuilding) game tersebut diawasi oleh Shoji Kawamori, kreator asli franchise mecha sci-fi Macross.
Menurut Cho, cerita sci-fi cukup sulit untuk dibuat karena genre ini menuntut banyak pengetahuan sebelumnya, sehingga biasanya hanya orang yang benar-benar memahaminya yang mampu mengeksekusinya dengan baik.
Selain itu, jika aspek “sains” dalam cerita dibuat terlalu mendalam, hal tersebut bisa terasa sulit diakses oleh sebagian pemain. Karena alasan itulah tim pengembang di Capcom memilih pendekatan cerita yang lebih sederhana.
“Jika kami membuat elemen sci-fi terlalu kompleks, hal itu bisa membuat pemain kehilangan minat. Kami hanya menggunakannya sebagai cara untuk membangun suasana, sementara kerangka utama cerita tetap berfokus pada Hugh dan Diana. Game ini tidak bisa disebut sebagai hard science fiction, tetapi karena saya menyukai genre tersebut, saya berusaha keras menangkap atmosfernya.”
Oyama juga menjelaskan bahwa tim pengembang harus berhati-hati dalam menentukan batas penggunaan elemen sci-fi.
“Jika kami mengisi IP baru ini dengan hal-hal aneh yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya, itu bisa terasa justru menjauhkan pemain,” ujarnya.
Meski demikian, ia menambahkan bahwa berkat keterlibatan Kawamori—seorang veteran sci-fi—tetap akan ada beberapa elemen yang mungkin membuat pemain terkejut.
“Kami memang mengambil arah yang lebih mudah diakses, tetapi pada saat yang sama worldbuilding sci-fi kami ditinjau oleh Shoji Kawamori, jadi saya yakin akan ada banyak adegan yang membuat pemain berpikir: ‘Tunggu, mereka benar-benar memasukkan itu juga?’” kata Oyama.

Cho juga menambahkan bahwa timnya secara umum menghindari memasukkan bagian cerita yang sulit dipahami tanpa pengetahuan mendalam tentang lore ke dalam alur utama. Namun, pemain tetap bisa merasakan nuansa sci-fi melalui berbagai file dan hologram yang dapat ditemukan dalam game.
Selama proses pengembangan, Cho mengaku menonton dan memainkan berbagai karya sci-fi sebagai referensi. Meski begitu, ia menyebut cukup sulit menemukan cerita yang berlatar masa depan dekat.
Walau tidak ada karya tertentu yang secara langsung memengaruhi Pragmata, sang sutradara menyebut film Oblivion yang dibintangi Tom Cruise serta manga Battle Angel Alita karya Yukito Kishiro sebagai beberapa favorit pribadinya dalam genre tersebut.















Discussion about this post