Pertama kali diperkenalkan di Dragon Quest II, Cypress Stick yang sederhana dikenal sebagai senjata yang selalu muncul kembali dalam seri ini dan biasanya menjadi pilihan terlemah yang tersedia.
Senjata ini telah menjadi sangat ikonik selama bertahun-tahun, bahkan sempat muncul sebagai cameo di NieR: Automata sebagai item yang “hampir tidak bisa disebut sebagai senjata, tetapi entah bagaimana memberikan keberanian kepada penggunanya.”
Seperti yang ditunjukkan oleh media Jepang MagMix, karena kayu cemara Jepang (hinoki) di dunia nyata dikenal sebagai jenis kayu mewah yang biasanya tidak melambangkan kelemahan, fenomena Cypress Stick ini terbilang agak tidak biasa. Namun, kreator seri tersebut, Yuji Horii, mengungkapkan bahwa hal ini sebenarnya lebih berkaitan dengan keterbatasan teknis dan cara kerja bahasa Jepang pada masa itu.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh MagMix, Horii menjelaskan bahwa kapasitas penyimpanan yang sangat terbatas pada kartrid Famicom untuk Dragon Quest II memaksa para pengembang untuk beradaptasi. Karena karakter kanji (yang menyampaikan arti sekaligus bunyi) belum didukung oleh sistem saat itu, semua teks di dalam game—termasuk nama monster, senjata, dan item—harus ditulis sepenuhnya dalam alfabet hiragana, yang hanya menyampaikan bunyi huruf saja.

Di Jepang, pedang kayu biasanya terbuat dari kayu ek putih atau ek merah, yang umumnya dikenal dengan sebutan “kashi” (樫). Namun, karena kartrid Famicom tidak mendukung tulisan kanji, Horii mengatakan bahwa sekadar menulis “kashi no bo” (かしのぼ, “tongkat kayu ek”) dalam hiragana justru akan terdengar terlalu mirip dengan kata bahasa Jepang untuk camilan atau kue, yaitu “okashi”. Menyingkat kata tersebut menjadi bentuk hiragana dasarnya saja, yaitu “かし” (kashi), juga tidak akan berhasil karena pemain tidak akan tahu apa maksud atau arti dari kata tersebut tanpa adanya konteks kanji.
Oleh karena itu, kata “hinoki” (ひのき, yang berarti “cemara Jepang”) akhirnya dipilih. Meskipun kayu cemara Jepang di dunia nyata lebih sering digunakan untuk membangun kuil-kuil megah, kata ini sangat mudah dipahami ketika ditulis dalam bentuk hiragana. Bunyinya terdengar jelas dan tidak memiliki kata homonim (kata dengan bunyi sama namun beda arti) yang berpotensi memicu kebingungan bagi pemain.
Game Dragon Quest versi Jepang orisinal pun akhirnya menggunakan istilah “hinoki no bo” (ひのきのぼう). Langkah ini berhasil mencegah kesalahpahaman dan sejak saat itu justru bertransformasi menjadi salah satu senjata paling ikonik yang selalu hadir di sepanjang sejarah waralaba legendaris ini.















Discussion about this post