alam wawancara eksklusif bersama DBLTAP, Pete Hines, mantan Senior Vice President Global Marketing & Communications di Bethesda, berbagi kisah perjalanan kariernya yang penuh makna selama 24 tahun bersama perusahaan ini. Ia pensiun dua tahun lalu dan kini mengabdikan waktu sebagai penasihat pro bono bagi orang-orang yang tengah berjuang di industri game.
Awal Perjalanan: Dari X-COM hingga Bethesda

Segalanya bermula dari kecintaan Hines terhadap game strategi X-COM: UFO Defense. Saat internet belum umum di rumah, Hines nekat memakai fasilitas komputer kampus untuk mencari kabar sekuel game itu. Kebetulan, ia menemukan kesempatan menjadi penulis sukarela di situs game The Adrenaline Vault—jalan awal ia terjun dalam dunia game journalism sambil menuntut ilmu MBA
Kemudian, pada Oktober 1999—tak lama setelah ZeniMax mengakuisisi Bethesda—Hines ditawari posisi menggabungkan pekerjaan dan passion: menjalankan divisi pemasaran dan komunikasi Bethesda. Saat itu, timnya masih kecil, hanya sekitar sepuluh orang dalam koridor kantor yang sama
Morrowind: Sebuah Manual dan Nostalgia

Hines tak hanya dikenal sebagai juru bicara Bethesda; ia juga menulis manual untuk The Elder Scrolls III: Morrowind. Hasilnya begitu mendalam: mencakup sihir, ras, alkimia, hingga birthsigns—manual yang dibacanya penuh semangat saat perjalanan pulang dari toko game
Ketika Kecil itu Ajaib
Zaman itu, Bethesda masih kecil dan fleksibel. Hines sempat melakukan segala hal sendiri—merakit fisik game, menempel disc, dan mengelola forum. Kenangan paling ekstrem? Ia tetap tampil di sebuah event besar meski sedang alami gegar otak setelah kecelakaan saat main sepak bola: “It was the biggest event we’ve ever done, there’s no universe in which I’m not going to this,” kenangnya.
Budaya Perusahaan yang Hangat dan Nyata

CEO Bethesda saat itu, almarhum Robert Altman, dikenal sebagai pemimpin yang hangat dan menghargai talenta, menyemangati timnya lewat surat mingguan yang inspiratif, bahkan di masa pandemi. Suasana itu menciptakan ikatan kekeluargaan yang Hines rindukan saat perusahaan mulai membesar.
Filosofi Game dan Fleksibilitas dalam Desain

Salah satu momen paling menarik adalah bagaimana Bethesda kerap berubah arah saat pengembangan game:
- “Great games are played, not made.” Hines mengutip filosofi Todd Howard ini sebagai cerminan budaya adaptif mereka. Contohnya, sistem pertarungan Oblivion sempat dirombak tiga kali selama pengembangan—dan mereka sengaja tidak membicarakannya sampai versi akhirnya benar-benar solid.
- Bahkan dalam Dishonored, keganjilan seperti “possess fish”, yang semula dianggap bug, justru dijadikan fitur unik karena mencerminkan kreativitas pemain—senantiasa dihargai dan diperkuat oleh tim.
Evolusi Bethesda—Dulu dan Kini

Hines juga mencatat tantangan mengelola merek Bethesda saat perusahaan berekspansi menjadi penerbit dan developer. Banyak game Bethesda Softworks diterbitkan, tapi publik sering menyangka semuanya berasal dari tim Todd Howard. Upaya klarifikasi dengan membedakan nama Bethesda Game Studios nyatanya masih kalah menjangkau identitas yang sudah terbentuk.
Pertumbuhan besar—akuisisi id Software, Arkane, MachineGames, Tango Gameworks—bertujuan memperkuat kreativitas internal dan berbagi teknologi, misalnya aspek desain senjata berat yang lebih terasa dalam game-game baru.
Refleksi: Transformasi Tak Terelakkan
Hines menyimpulkan, “there’s no question that the company is not the same.” Produktivitas meningkat, struktur corporat berubah drastis—tapi itu bagian dari evolusi. Ia menyadari bahwa menghidupi kreativitas dalam skala besar adalah tantangan, namun juga peluang.















Discussion about this post