Fallout dan Bethesda tidak selalu jadi nama yang identik seperti sekarang. Bagi generasi tertentu penggemar RPG PC hardcore, pendekatan Bethesda yang semakin arus utama dan ramah konsol terhadap genre role-playing justru menimbulkan penolakan.
Mengubah RPG isometrik klasik menjadi game seperti Fallout 3—yang secara sinis sebelum rilis bahkan dijuluki “Oblivion with guns”—dianggap sebagai bentuk penistaan. Tekanan ini paling dirasakan oleh para pengembang di Bethesda.
“Sebagian komunitas penggemar Fallout merasa bahwa tim yang terkenal lewat game tentang elf dan fantasi tidak seharusnya menyentuh seri ini,” ujar Angela Browder, associate art producer Bethesda saat itu, dalam wawancara dengan Edge edisi 419.
“Kami cukup terkejut dengan seberapa besar kebencian yang kami terima. Mereka sama sekali tidak senang kami membeli lisensi ini.”
Namun, justru reputasi besar Fallout di kalangan penggemar RPG yang membuat akuisisi tersebut menjadi keputusan yang tak perlu dipikirkan dua kali, menurut Emil Pagliarulo, lead designer Bethesda.
“Saya ingat berbicara dengan Todd Howard, dan dia bertanya, ‘Menurutmu bagaimana?’ Jawaban saya cuma, ‘Ayolah. Ini Fallout.’”
Awalnya, Bethesda hanya melisensikan IP Fallout dari pengembang aslinya, Interplay. Namun ketika kondisi finansial Interplay memburuk pada era 2000-an, studio tersebut terpaksa menjual aset-asetnya.
Troika Games, yang didirikan oleh beberapa tokoh utama di balik dua Fallout pertama, sempat mempertimbangkan untuk menawar IP tersebut, tetapi tidak mungkin menandingi tawaran Bethesda sebesar 6 juta dolar AS.

Meski Fallout versi Bethesda tampil sangat berbeda dibandingkan karya Interplay, bukan berarti tim barunya tidak berusaha menghormati materi sumber. Cerita Fallout 3, yang berfokus pada upaya menyediakan air bersih untuk Capital Wasteland, merupakan penghormatan langsung terhadap misi utama Fallout pertama, yaitu memperbaiki pemurni air di tempat tinggal pemain.
Pagliarulo menjelaskan bahwa inspirasi cerita Fallout 3 muncul saat ia melihat peta Washington DC dan kawasan Tidal Basin. “Saat itu langsung terasa: ‘Ini harus tentang air. Harus kembali ke tema asli Fallout 1—tentang bertahan hidup, tentang sesuatu yang sederhana.’”
Masih ada penggemar Fallout yang setia pada dua game pertama buatan Interplay. Namun jika kesuksesan diukur dari angka, sulit membantah bahwa Bethesda pada akhirnya menang.
Baca Juga: 26 Game Baru di Bulan Februari 2026
Jumlah pemain Fallout meningkat berkali-kali lipat di era Bethesda, dan basis penggemarnya terus bertumbuh berkat kesuksesan serial TV Fallout.
“Kalau melihat jumlah penggemar Fallout di era 1 dan 2, lalu berkembang lewat 3, berkembang lagi lewat 4, dan sekarang ada serial televisi,” tutup Browder. “Bagi saya, itulah makna kesuksesan—semua orang ini akhirnya menjadi penggemar seumur hidup.”















Discussion about this post