Mantan karyawan Ubisoft Osaka, Kensuke Shimoda, yang bekerja sebagai game designer di perusahaan tersebut antara April 2021 hingga November 2024, menepis klaim bahwa penurunan harga saham Ubisoft disebabkan oleh inisiatif Ubisoft DEI (Diversity, Equity, and Inclusion) di dalam organisasi maupun game-game mereka.
Sebaliknya, Shimoda menilai Ubisoft merupakan korban dari apa yang ia sebut sebagai “Big Business Syndrome.”
Dalam unggahan tertanggal 25 Januari, ia menulis:
Saya tidak akan mengutipnya satu per satu, tetapi saya benar-benar muak melihat masih banyak orang menyebarkan rumor palsu bahwa “harga saham Ubisoft turun karena mereka terlalu fokus pada DEI.” Sebagai mantan karyawan, saya bisa menyatakan dengan tegas bahwa:
・Para pendukung DEI tidak memiliki pengaruh sebesar itu
・Bahkan, inisiatif DEI justru memberikan dampak positif (perbaikan lingkungan kerja, ekspansi pasar ke Amerika Selatan dan Timur Tengah, dan lain-lain)
・Kemunduran di departemen pemasaran/kreatif berasal dari Big Business Syndrome—sesuatu yang bisa terjadi pada perusahaan besar mana pun
・Salah satu contohnya adalah tingkat pergantian karyawan yang terlalu rendah, sehingga jelas terjadi kekurangan staf senior/lead yang berpengalaman dalam pengembangan game online/mobile/F2P
・Selain itu, sebagai perusahaan yang berfokus pada Prancis dan membangun cabang di luar wilayah berbahasa Prancis untuk membentuk struktur pengembangan global, Ubisoft menghadapi masalah manajemen yang khas bagi “perusahaan global non-berbahasa Inggris”Jika Ubisoft meninggalkan analisis ini, lalu menyerah pada teori konspirasi daring dan menjadikan para pendukung DEI sebagai kambing hitam, itu akan menjadi akhir bagi mereka.
Menurut Shimoda, para pendukung DEI di dalam Ubisoft memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap cara perusahaan dijalankan selama masa kerjanya. Sementara upaya terkait DEI—seperti ekspansi global dan perbaikan lingkungan kerja—sebenarnya berjalan dengan baik, masalah justru muncul dari sisi manajemen akibat status Ubisoft sebagai perusahaan multinasional berbasis di Prancis.
Secara lebih spesifik, seperti yang Shimoda jelaskan lebih lanjut, adanya jarak psikologis antara studio Prancis dan non-Prancis menghambat para pengembang untuk mengakses pengetahuan dan pengalaman studio Prancis/Kanada, yang selama ini menjadi inti budaya kreatif perusahaan.
“Terkait game-game Ubisoft, Shimoda mengaitkan minimnya kesuksesan belakangan ini dengan “penurunan kualitas departemen pemasaran/kreatif” akibat jebakan Big Business Syndrome. Ia menyebut bahwa sejumlah posisi kepemimpinan diisi oleh individu yang kurang memiliki pengalaman dalam pengembangan game online/mobile/F2P. Ditambah lagi, tingkat pergantian posisi yang rendah membuat karyawan yang lebih berpengalaman sulit mengambil alih peran tersebut.”
Ubisoft kerap disebut sebagai salah satu pengembang game yang sangat berinvestasi dalam DEI. Namun sebagai mantan karyawan, Shimoda menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Menurutnya, ketika sebuah perusahaan disebut “sangat berinvestasi” pada nilai tertentu, itu menyiratkan adanya unsur pemaksaan—dan hal semacam itu tidak pernah terjadi di Ubisoft.
Pernyataan terbaru Shimoda ini juga sejalan dengan unggahan lamanya, yang menanggapi artikel KuraTech yang mengaitkan penurunan harga saham Ubisoft kala itu dengan kehadiran Yasuke, samurai kulit hitam, di Assassin’s Creed Shadows. Dalam unggahan yang dibuat beberapa bulan setelah penutupan Ubisoft Osaka, Shimoda kembali menegaskan bahwa tidak ada penerapan nilai-nilai DEI secara koersif di dalam perusahaan.















Discussion about this post