Dua hari setelah akuisisi EA (Electronic Arts) resmi mengumumkan penjualan dirinya ke Arab Saudi dan konsorsium ekuitas swasta dengan nilai sekitar $55 miliar, gelombang kekhawatiran mulai bermunculan di kalangan karyawan dan pengamat industri.
Baca Juga: EA Resmi Diakuisisi oleh PIF Arab Saudi, Silver Lake, dan Affinity Partners senilai US$ 55 Milliar!
Di tengah spekulasi soal PHK, potensi sensor, dan utang raksasa, banyak pihak menilai kesepakatan ini justru menimbulkan lebih banyak tanda tanya daripada kepastian. Menurut laporan Bloomberg, S&P Global Ratings berencana menurunkan peringkat kredit EA menjadi “junk status” setelah proses leveraged buyout rampung tahun depan.
Saat ini EA masih berada di level “BBB+”, tetapi status itu akan berubah menjadi “non-investment grade” karena adanya pinjaman 20 miliar USD untuk membayar para pemegang saham lama dengan premi 25%. Moody’s Ratings juga berencana melakukan penilaian serupa.
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa JPMorgan menjadi penyokong utama pembiayaan melalui jalur leveraged finance, bukan dari divisi kredit privatnya, dan akan membentuk konsorsium global untuk menanggung risiko utang tersebut. Pinjaman ini, yang diperkirakan masuk kategori single-B high-yield bonds, berarti bunga yang sangat tinggi — menambah tekanan besar pada keuangan EA.
Masa Depan BioWare dan Isu Restrukturisasi

Bagi sebagian analis, menjadi perusahaan privat bisa memberi EA kebebasan dari tekanan pasar saham dan laporan kuartalan. Namun, beban utang besar justru bisa mengubah struktur dan identitas EA secara mendasar.
EA selama ini dikenal memiliki reputasi buruk: mengakuisisi studio berbakat dan kemudian membubarkannya jika tidak memenuhi target keuntungan dari game-game besar seperti Madden atau EA Sports FC.
Studio seperti Respawn Entertainment baru-baru ini mengalami dua gelombang PHK dan pembatalan beberapa proyek, termasuk prototipe Titanfall baru. Sementara BioWare, sang pembuat Mass Effect dan Dragon Age, kini disebut hanya tinggal bayangan kejayaannya dulu. Setelah pengembangan Dragon Age: The Veilguard yang penuh gejolak, BioWare kini kembali menjadi “studio satu game.”
Laporan Insider Gaming menyebut bahwa EA sempat mempertimbangkan untuk menjual BioWare, studio yang dulu dibeli senilai $775 juta pada 2007. Beberapa pengembang di dalamnya bahkan mengaku cemas dengan kemungkinan campur tangan politik dan budaya setelah kepemilikan beralih ke pihak Saudi.
Mantan direktur proyek BioWare, Mark Darrah, menyampaikan keprihatinan lewat video di YouTube:
“Sulit membayangkan BioWare tiba-tiba berubah dari studio dengan pesan yang sangat progresif menjadi kebalikannya hanya karena itu yang diinginkan pemerintah baru. Bahkan jika dilakukan, reaksi publik terhadap game mereka akan menjadi bencana.”
Kekhawatiran Soal Isu LGBTQ dan Lainnya

Dalam satu-satunya komunikasi resmi ke karyawan, EA menyatakan “tidak akan ada perubahan langsung terhadap pekerjaan atau tim” akibat akuisisi ini. Namun, sikap perusahaan yang tidak secara eksplisit menegaskan komitmen terhadap keberagaman dan hak LGBTQ+ telah menimbulkan keresahan besar.
Seorang karyawan EA yang berbicara kepada Game File secara anonim mengatakan:
“Andrew Wilson (CEO EA) seolah berkata ‘selamat tinggal’ pada semua karyawan perempuan dan LGBTQ lewat kesepakatan ini. Kami tahu ketika kesepakatan selesai, segalanya akan memburuk sebelum ada harapan membaik—jika itu bahkan mungkin.”
Bagaimana Kepastian Nasib EA Kedepannya ?
Akuisisi EA oleh Arab Saudi dan investor swasta membuka bab baru yang sarat dengan risiko politik, finansial, dan sosio politik. Dari kemungkinan PHK besar hingga potensi perubahan arah kreatif studio legendaris seperti BioWare, masa depan EA kini bergantung pada keseimbangan rapuh antara utang besar, visi AI yang belum terbukti, dan tekanan budaya dari pemilik baru.















Discussion about this post