Developer Hypergryph menggelar konferensi media pada 11 November untuk mempromosikan game action RPG free-to-play terbaru mereka, Arknights: Endfield. Dalam konferensi tersebut, tim pengembang membagikan detail tentang grafis game yang sangat rumit, yang implementasinya membutuhkan kustomisasi besar-besaran pada engine Unity.
Baca Juga: 20 Seri JRPG Terbaik Yang Terlantar Tapi Layak Untuk Dibangkitkan
Arknights: Endfield adalah spin-off dari game mobile Hypergryph tahun 2019, Arknights. Game ini membangun ulang grafis dan gameplay secara radikal: dari game tower defense 2D menjadi game aksi strategis real-time 3D.
Meskipun Hypergryph sebelumnya pernah menggunakan grafis 3D untuk sinematik Arknights, Endfield adalah judul pertama dalam seri ini yang sepenuhnya dikembangkan dalam 3D. Walau menghadapi banyak kesulitan dalam tantangan besar ini, tim pengembang sama sekali tidak berkompromi soal kualitas grafis.
Sebagai contoh, model karakter di Endfield menggunakan sekitar 80.000–100.000 polygon untuk setiap karakter (40.000–50.000 untuk versi mobile), yang menurut Hypergryph sekitar 1,5 kali lebih banyak dari rata-rata polygon game 3D lainnya.

Selain itu, game ini akan menampilkan hingga 4 karakter playable secara bersamaan di layar, yang sangat menuntut kemampuan rendering.
Endfield juga memiliki gameplay manajemen, yang berarti pabrik dan objek-objek bergerak yang ditempatkan pemain juga harus dirender terus-menerus, menambah beban sistem. Kesimpulannya – Endfield adalah game yang sangat berat, dan agar dapat berjalan baik, tim pengembang harus memodifikasi pipeline rendering Unity secara signifikan.
Dalam sebuah kesempatan interview dengan Automaton, Hypergryph membahas mengenai beberapa modifikasi tersebut. Struktur dasar Unity, editor, dan alat-alatnya tetap dipertahankan, tetapi hampir semua hal lainnya dirombak, dengan sistem rendering grafis mendapatkan perombakan total.
“Arsitektur fundamental engine menggunakan pendekatan data-oriented ECS (Entity Component System), memungkinkan komponen game diproses lebih efisien. Di atas itu, kami sepenuhnya merevisi API grafis untuk memenuhi kebutuhan performa ketat game ini,” jelas mereka.
Selain itu, Hypergryph mengembangkan teknologi shading mereka sendiri yang mendukung banyak platform. Seperti dijelaskan oleh para developer,
“Sulit untuk merender bayangan dinamis untuk objek yang jauh, tetapi di Endfield, bayangan dinamis dirender di seluruh area, termasuk objek pada jarak dekat, menengah, dan jauh.”
Bahkan untuk sistem pembangunan pabrik, Hypergryph menerapkan banyak optimasi dan modifikasi untuk mencapai pencahayaan dan shading dinamis, menggunakan teknik pemrosesan data dan rendering berbasis ECS buatan mereka.

Meskipun mengustomisasi engine game yang sudah ada bukan hal baru di industri, cukup menarik mendengar developer berbicara terbuka mengenai modifikasi spesifik yang mereka lakukan terhadap Unity.
Melihat ledakan game 3D berkualitas grafis tinggi yang muncul dari Tiongkok belakangan ini, tampaknya Unity telah menempuh jalur evolusi yang sangat berbeda di negara tersebut.















Discussion about this post