Bos Valve, Gabe Newell, membela keterbukaan ekosistem PC gaming dan membantah keras tuduhan bahwa perusahaannya memberikan hukuman kepada studio-studio yang menjual game mereka lebih murah di platform selain Steam. Hal ini terungkap dari dokumen terbaru dalam sebuah gugatan hukum yang mengeklaim bahwa Valve telah menjalankan praktik monopoli ilegal.
Media Bloomberg berhasil mengungkap dokumen deposisi baru dari gugatan hukum di AS tersebut—sebuah gugatan kelompok yang serupa dengan tuntutan senilai $900 juta USD di Inggris, yang sama-sama menuduh Valve menyalahgunakan posisi pasarnya.
Bantahan Keras dari Gabe Newell

Gugatan di AS tersebut sangat menyoroti dugaan adanya “aturan tidak tertulis”, di mana game yang mendapatkan diskon di toko kompetitor Steam akan dijatuhi sanksi oleh Valve. Newell membantah keras praktik tersebut dalam deposisinya, dan dilaporkan mengulangi poin pembelaannya secara berulang-ulang, bahkan terkadang kata demi kata.
“Valve tidak memiliki kebijakan atau praktik untuk mendikte harga kepada pengembang perangkat lunak pihak ketiga di platform lain,” tegas Newell.
Ketika ditanya bagaimana respons Valve jika ada pengembang yang menjual game mereka di Steam tetapi memasang harga lebih murah di toko digital lain, Newell menjawab, “Saya bingung dengan pertanyaan Anda,” dan kemudian menambahkan, “Banyak mitra kami dan banyak pelanggan kami yang sangat senang dengan layanan yang kami sediakan.”
Nada bicara serupa kembali muncul dalam komentar Newell terkait tuduhan monopoli. Pada intinya, Valve menyatakan bahwa mereka tidak melakukan tindakan ilegal apa pun dan berhasil memenangkan persaingan toko PC gaming murni lewat inovasi serta penambahan fitur-fitur baru yang memikat pemain.
“Pelanggan memiliki pilihan yang sangat luas,” kesaksian Newell. Ia menambahkan bahwa para gamer bebas memilih “di mana mereka membeli produk mereka, apakah mereka membeli game tersebut di Xbox, di Steam, di Epic Games Store, atau membelinya langsung dari pengembang perangkat lunak.”
Perdebatan Status “Monopoli” Steam
Dominasi Steam dalam industri PC gaming memang telah menjadi topik hangat selama bertahun-tahun. Perdebatan ini semakin intens menyusul survei pada November 2025 yang dirilis oleh platform distribusi game Rokky, yang melaporkan bahwa:
- 72% responden menganggap Steam sebagai sebuah monopoli.
- Responden tersebut terdiri dari 306 manajer di industri game, dengan rincian 67% berasal dari AS dan 33% dari Inggris.
Meski begitu, analis industri asal AS, Mat Piscatella, sempat menyanggah penggunaan istilah tersebut. Ia setuju bahwa Steam memiliki posisi yang sangat dominan, tetapi berargumen bahwa pangsa pasar bukanlah hal yang mendefinisikan sebuah monopoli.
Menurut Piscatella, monopoli baru terjadi ketika hanya ada penjual tunggal untuk layanan atau barang tertentu tanpa adanya produk pengganti, serta memiliki kemampuan untuk mengenakan tarif yang terlampau tinggi karena kondisi tersebut.
Di sisi lain, gugatan-gugatan hukum yang dilayangkan pada dasarnya menilai bahwa Steam sudah memegang kendali yang cukup kuat untuk memaksakan biaya yang tidak adil serta pembatasan harga. Pihak penggugat di AS berargumen bahwa secara ekonomi “tidak realistis” bagi pengembang game PC untuk melewatkan toko digital Steam, membuat mereka terpaksa patuh pada apa pun aturan Valve. Potongan komisi dasar sebesar 30% yang diambil Valve dari setiap penjualan di Steam, seperti yang sudah diduga, menjadi salah satu poin perdebatan utama dalam kasus ini.















Discussion about this post