Dalam sebuah wawancara terbaru dengan Dengeki Online, penulis Silent Hill f, Ryukishi07, dan produser Motoi Okamoto memberikan penjelasan tentang latar belakang religius dalam seri terbaru ini, serta menceritakan mengenai sebuah konsep awal yang akhirnya dibatalkan dari lore game tersebut.
Seperti dijelaskan Ryukishi07, rencana awal tim adalah membuat cerita yang lebih mirip dengan seri Silent Hill klasik—lengkap dengan keberadaan kultus kiamat misterius yang mengendalikan segala sesuatu dari balik layar.
Baca Juga:JRPG Terbaik Sepanjang Masa Yang Mendefinisikan Generasinya dan Masih Berpengaruh Hari Ini
Namun, karena seri terbaru ini berlatar di Jepang, para developer akhirnya memutuskan untuk membuang ide itu demi pendekatan yang lebih “otentik Jepang.”
“Salah satu ide paling awal kami adalah membuat Silent Hill versi Jepang secara harfiah, dengan kultus religius yang beroperasi secara tersembunyi, seperti di game-game sebelumnya. Namun ketika saya mengembangkan konsep awal tersebut bersama Pak Okamoto, kami sampai pada kesimpulan bahwa alih-alih sekadar menempatkan game ini di Jepang, kami sebaiknya menulis sebuah cerita yang hanya bisa ditulis di Jepang. Jadi, saya memutuskan untuk sepenuhnya menggunakan mitologi Inari dan legenda-legenda lain yang unik bagi Jepang,” ujar Ryukishi07.
Namun meski cerita penuh dengan berbagai motif dan simbol yang hanya dapat dipahami oleh orang Jepang atau mereka yang menguasai tradisi serta mitologi Jepang, para developer tidak takut hal ini akan memengaruhi penerimaan game di Barat.

Faktanya, Ryukishi07 mengatakan bahwa tim sama sekali tidak ragu bahwa para penggemar luar negeri akan dapat mengapresiasi fokus baru yang mengarah pada sudut pandang Shinto.
“Tentu saja, kami yakin bahwa para penggemar Silent Hill di luar Jepang akan mampu mencerna mitologi di baliknya — kami memang berharap dan percaya mereka dapat memahaminya. Pemahaman tentang agama berbeda antara Jepang dan negara-negara lain. Judul-judul Silent Hill sebelumnya didasarkan pada perspektif dunia Kristen, pandangan religius yang menyatakan bahwa ada satu Tuhan yang benar,” komentar Okamoto
Karena cerita kali ini berlangsung di Jepang, para developer ingin memanfaatkan sepenuhnya mitologi politiesme Jepang dan motif-motif religiusnya.
“Mungkin ada sebagian orang yang sudah memiliki gambaran pasti tentang sosok Tuhan seperti apa yang dianggap sebagai Tuhan dari Silent Hill, tetapi ingat, dewa dalam perspektif Barat dan Timur berbeda. Karena game ini dibuat dengan pemahaman ketuhanan ala Timur, hal tersebut mungkin menjadi salah satu karakteristik paling khas dari f,” jelasnya.















Discussion about this post