Pembicaraan dan kritik kepada Square Enix khususnya mengenai seri Final Fantasy, sebenarnya bukan lagi hal baru. Ini telah menjadi pembicaraan dan perdepatan yang panjang sekali di internet mulai dari opini sekilas fans seperti seri tersebut yang tak lagi turn base, hingga analisis yang lebih teknikal terhadap performa perusahaan.
Sutradara Final Fantasy 14 sekaligus veteran Square Enix, Naoki “Yoshi-P” Yoshida, mengakui bahwa interval perilisan Final Fantasy yang semakin lama membuat pemain muda sulit terhubung dengan franchise tersebut.
Square Enix sedang menangani banyak hal untuk seri Final Fantasy saja, dengan entri ketiga sekaligus penutup dalam trilogi Final Fantasy 7 Remake yang masih dalam pengembangan, dan Final Fantasy 17 yang diduga masih dalam tahap konseptual awal.
Meskipun begitu, seri utama terbaru, Final Fantasy 16, sudah hampir berusia tiga tahun tanpa ada tanda-tanda sekuel dalam waktu dekat. Bandingkan dengan interval dua tahun antara Final Fantasy 7 dan 8, maka mudah untuk melihat mengapa Yoshida menganggap seri ini lebih populer di kalangan audiens yang lebih tua.
Dalam sebuah video YouTube Square Enix yang merayakan perilisan game mobile Dissidia Duellum Final Fantasy, Yoshida menjelaskan mengapa ia berharap game baru ini akan menarik minat penggemar baru maupun penggemar lama.
“Saya sekarang berusia 53 tahun, dan saya sudah memainkan Final Fantasy 1 secara real-time. Tetapi bagi generasi muda—orang-orang yang tumbuh besar dengan terbiasa pada pertarungan berbasis aksi dan permainan kompetitif daring—entri terbaru dalam seri ini mungkin lebih sulit untuk dinikmati. Sebagian dari itu, dengan menyesal saya katakan… karena interval perilisan judul-judul baru menjadi lebih lama, sehingga beberapa pemain belum benar-benar memiliki kesempatan untuk terhubung dengan seri ini seperti yang dilakukan penggemar lama.”
Dissidia Duellum Final Fantasy: Upaya Menjembatani Generasi Muda
Dissidia Duellum Final Fantasy adalah game baru pertama dalam seri Dissidia mobile free-to-play dalam delapan tahun terakhir; sebuah game pertarungan bos berbasis tim 3v3 dengan sistem yang “terinspirasi oleh media sosial,” sesuatu yang diharapkan Yoshida dapat menarik kembali minat anak muda.
“Harapan saya adalah baik penggemar lama Final Fantasy maupun mereka yang mencintai karakter-karakternya dapat menikmati ini sebagai jenis permainan yang sepenuhnya baru. Terutama bagi para pemain muda—jika ini menjadi tempat di mana mereka dapat membentuk komunitas, bersemangat bersama, dan bahkan menemukan dunia Final Fantasy yang lebih luas—saya rasa itu akan sangat luar biasa.”

Masalah interval yang lebih lama antar entri dalam seri video game tentu saja tidak hanya terjadi pada Final Fantasy. Misalnya kalau kita bicara judul paling panas saja seperti GTA 6, ada jeda 13 tahun sejak perilisan pertama GTA 5—sesama JRPG pun misalnya Persona 6 masih belum ada kabar sama sekali setelah 10 tahun sejak perilisan Persona 5 pertama kali.
Dalam semua kasus ini, siklus pengembangan jauh lebih lama dari sebelumnya seiring dengan membengkaknya anggaran dan ekspektasi penggemar. Jadi, jika teori Yoshida benar, berbagai pengembang sebaiknya mulai membuat game seluler yang terinspirasi oleh media sosial jika mereka ingin tetap relevan di mata anak muda.















Discussion about this post