Menyusul kontroversi komentar Larian—pengembang Baldur’s Gate 3—soal penggunaan AI dalam Divinity, serta kembali mencuatnya fakta penggunaan AI pada pemenang GOTY Clair Obscur: Expedition 33, penulis utama Kingdom Come Deliverance 2, Daniel Vávra, memilih menyampaikan pandangannya sendiri tentang masa depan AI dalam industri game—dan pandangannya ini benar-benar mengerikan.
“Aku bukan penggemar seni yang dihasilkan AI, tapi mau bagaimana lagi, sudah saatnya kita menghadapi kenyataan. AI akan tetap bersama kita. Seseram apa pun kedengarannya, memang begitulah adanya. Secara pribadi, yang paling menakutkanku justru ada di musik, karena di sana kamu bahkan sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang dibuat AI dan mana yang tidak.” Ujarnya dalam rentetan tweet pribadinya.
Namun, itu belum bagian paling menyeramkan. Bagian yang benar-benar mengkhawatirkan adalah ketika ia memprediksi bahwa AI berpotensi membawa kehancuran bagi umat manusia. Meski begitu, setidaknya—menurutnya—membuat video game akan jadi lebih mudah bagi mereka yang berhasil selamat dari kiamat.
Dengan teknologi AI, membuat game mungkin akan menjadi lebih mudah seperti menulis buku, game game kecil jumlahnya mungkin akan bertambah banyak dengan melahirkan genre genre yang lebih niche.
Tetapi dengan semakin cepatnya produksi dan semakin banyaknya produk, maka akan semakin banyak juga karya sampah yang dihasilkan. Setidaknya itulah pendapat Vávra soal ini.

Tentu saja, arah perkembangan AI tidak bisa diprediksi—bukan hanya dalam industri game, tetapi juga pada tingkat yang jauh lebih eksistensial. Tidak semua orang seoptimistis Vávra, yang tampak yakin AI akan sama revolusionernya dengan penemuan-penemuan paling menentukan di era industri.
“Melawan hal ini mungkin sama tidak bergunanya dengan menolak penggunaan mesin jahit di industri tekstil, atau kembali menunggang kuda ketika kita sudah punya pesawat dan mobil. Berapa banyak peternak kuda yang kehilangan pekerjaan karena Henry Ford!?”
Secara spesifik, Vávra mengatakan bahwa “para programmer akan menghadapi masalah” dan bahwa “sebagian besar publisher besar” akan punah, begitu pula “Hollywood seperti yang kita kenal sekarang.”
Namun, di usianya yang menginjak 50 tahun, pengembang game veteran ini justru sepenuhnya menerima AI sebagai cara untuk mewujudkan ide-idenya dengan lebih efisien. “Jika AI bisa membantuku membuat game epik dalam setahun dengan tim kecil seperti dulu, aku sepenuhnya mendukungnya.”
Baca Juga: JRPG Terbaik Sepanjang Masa Yang Mendefinisikan Generasinya dan Masih Berpengaruh Hari Ini
Meski wajar jika banyak orang merasa khawatir dengan gagasan bahwa AI dapat mengurangi ukuran tim, Vávra setidaknya menegaskan bahwa yang ia maksud sebagian besar adalah AI non-generatif.
Ia menambahkan,
“Game tersebut tetap akan memiliki art director, penulis, programmer, dan desainer grafis, tetapi mereka tidak perlu lagi mengerjakan tugas-tugas yang melelahkan dan membosankan. Mereka bisa fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.”















Discussion about this post