Industri game kembali diguncang isu miring terkait penggunaan Kecerdasan Buatan (AI). Kali ini, seorang developer dari Warhorse Studios yang merupakan studio di balik game RPG ambisius Kingdom Come: Deliverance II yang mengaku baru saja kehilangan pekerjaannya karena posisinya digantikan oleh teknologi AI.
Kabar ini mencuat setelah Max Hejtmanek, yang telah bekerja selama hampir empat tahun sebagai penerjemah bahasa Ceko ke Inggris di studio tersebut, meluapkan kekecewaannya melalui unggahan di Reddit yang telah diverifikasi oleh moderator.
Pemecatan Mendadak Demi “Efisiensi”
Hejtmanek menceritakan bahwa pada 27 Maret 2026, ia dipanggil ke sebuah pertemuan tanpa peringatan apa pun. Di sana, pihak manajemen memberi tahu bahwa posisinya kini dianggap “usang” (obsolete).
“Saya diberitahu bahwa dalam upaya untuk ‘membuat perusahaan lebih efektif’ dan ‘menghemat finansial’, terhitung mulai bulan depan, posisi saya akan ditiadakan dan diganti dengan penggunaan AI untuk semua proses penerjemahan ke depannya,” tulis Hejtmanek.
Hejtmanek mengaku sangat terkejut karena meskipun diskusi soal penggunaan AI sering muncul di internal kantor, ia tidak menyangka hal itu akan langsung merenggut mata pencahariannya. Selama ini, ia berkontribusi besar dalam menerjemahkan dialog Kingdom Come: Deliverance II berbagai DLC, hingga materi pemasarannya.
Rasa Khianat di Balik Game yang Dicintai
Bagi Hejtmanek, ini bukan sekadar soal kehilangan pekerjaan, tapi soal hilangnya rasa kemanusiaan dalam industri. Ia merasa sangat terpukul karena selama empat tahun terakhir, ia menganggap rekan-rekan kerjanya sebagai keluarga.
“Saya merasa sangat dikhianati oleh manajemen perusahaan yang sangat saya sayangi selama hampir 4 tahun ini. Hati saya hancur karena tidak akan bisa lagi melihat teman-teman dan kolega saya di kantor setiap hari,” lanjutnya.
Alarm bagi Industri Game Dunia
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para gamer dan pelaku industri bahwa gelombang AI mulai berdampak nyata pada nasib para pekerja kreatif. Hejtmanek ingin publik tahu bagaimana perusahaan game yang mereka cintai memandang nilai kerja keras karyawannya.
Hingga saat ini, pihak Warhorse Studios belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan tersebut. Namun, kasus ini dipastikan akan menambah daftar panjang kontroversi mengenai apakah efisiensi biaya lewat AI sepadan dengan hilangnya sentuhan manusia dalam sebuah karya seni seperti video game.















Discussion about this post